Membangun Kembali Ruh Perkaderan HMI Cabang Sukabumi Bersama Mar’i Muhamad Haikal

Dalam dinamika kehidupan organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Sukabumi, periode kepengurusan sebelumnya menunjukkan berbagai tantangan internal yang perlu mendapat perhatian serius.

Kondisi moralitas pengurus yang belum sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai kader HMI, pelaksanaan program kerja yang cenderung seremonial, serta komitmen pengkaderan yang terbatas hanya pada semester awal menjadi refleksi bersama bahwa HMI perlu melakukan reposisi arah gerak dan revitalisasi nilai perjuangan.

Dominasi pragmatisme dan kepentingan politis yang berlebihan telah menimbulkan jarak komunikasi antara cabang dan komisariat. Dari lima belas komisariat yang ada, hanya tujuh Komisariat Kohati yang terdata aktif, sementara sisanya mengalami kevakuman atau bahkan tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

Kondisi ini menandai adanya degradasi semangat kolektif dan menurunnya fungsi konsolidatif cabang terhadap komisariat, padahal komisariat merupakan basis kaderisasi dan ujung tombak keberlanjutan organisasi.

Selain itu, pelaksanaan Latihan Kader (LK) 1 yang secara kuantitas peserta terus menurun, menunjukkan perlunya strategi baru dalam pola kaderisasi di era generasi digital. Karakter Gen Z yang lebih dinamis, digital-minded, dan menyukai pendekatan yang praktis harus dijawab dengan inovasi pola perkaderan yang adaptif dan relevan dengan konteks zaman, tanpa meninggalkan substansi nilai-nilai HMI.

Meski demikian, periode sebelumnya juga mencatat capaian yang patut diapresiasi, seperti terselenggaranya Training LK II, Senior Course (SC), dan Latihan Kader Kohati (LKK).

Namun, capaian tersebut belum diiringi dengan penguatan struktur kelembagaan penunjang seperti BPL, LAPENMI, LEPPAMI, dan LKBHMI, yang saat ini nyaris tanpa gerak dan tanpa kajian. Padahal, keempat lembaga ini merupakan ruh keilmuan dan instrumen strategis dalam mewujudkan kader HMI yang paripurna: berilmu, berdaya, dan berperan aktif di masyarakat.

Berangkat dari realitas tersebut, Mar’i Muhamad Haikal hadir dengan visi “rekonstruksi gerakan HMI Cabang Sukabumi menuju “Konsolidasi Nilai, Revitalisasi Kaderisasi, dan Reposisi Peran Sosial-HMI”.

Ia menegaskan bahwa HMI tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai organisasi perjuangan yang berakar pada masyarakat. HMI harus hadir di tengah lingkungan sosial terkecil menjadi pusat aktivitas masyarakat, bukan hanya sibuk berinteraksi dengan lingkaran pemerintahan.

Mar’i menegaskan pentingnya kembalinya orientasi perjuangan HMI pada “arus bawah”, sebagaimana semangat awal perjuangan HMI: membangun kesadaran umat dan menggerakkan transformasi sosial dari basis mahasiswa dan masyarakat. Dengan demikian, kehadiran HMI di ruang publik tidak hanya tampak dalam forum-forum resmi, tetapi juga nyata dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dari membantu warga sekitar hingga menghadirkan solusi terhadap problem sosial di daerah.

Dalam perumusan langkah-langkah taktisnya, Mar’i Muhamad Haikal juga merujuk pada hasil Kongres HMI Pontianak, Munas BPL Semarang 2024, Munas Kohati Pontianak dan pedoman-pedoman lainnya. Hasil-hasil tersebut menjadi landasan normatif sekaligus arah strategis untuk memperkuat sistem kaderisasi berbasis kompetensi, membangun integrasi antar-lembaga kekaderan, serta memperluas ruang partisipasi perempuan HMI (Kohati) dalam pengambilan keputusan strategis cabang.

Melalui revitalisasi tersebut, diharapkan lahir model kaderisasi baru yang berbasis riset, digitalisasi gerakan, serta pemberdayaan sosial. Program kerja tidak lagi sebatas seremoni, melainkan menjadi sarana aktualisasi nilai dan wadah kolaborasi lintas bidang.

Sebagaimana ditegaskan Mar’i Muhamad Haikal, “HMI Cabang Sukabumi harus kembali menjadi lokomotif perubahan sosial, bukan sekadar pengamat perubahan. Kita tidak boleh lupa pada lingkungan sekitar; karena di sanalah sejatinya nilai perjuangan HMI hidup dan menemukan maknanya.

Dengan spirit akademis dan militansi moral, pencalonan Mar’i Muhamad Haikal bukan hanya sekadar regenerasi kepemimpinan, tetapi juga langkah strategis untuk mengembalikan marwah HMI Cabang Sukabumi sebagai pusat pergerakan intelektual dan sosial yang berorientasi pada kemajuan umat dan bangsa.

Melalui tagline “HMI Inklusif”, Mar’i mengajak seluruh kader HMI Cabang Sukabumi untuk terlibat aktif dan berkontribusi penuh dalam memajukan organisasi, demi terwujudnya cita-cita besar HMI, baik secara nasional maupun di tingkat cabang.

Gagasan “HMI Inklusif” lahir dari keprihatinan atas menurunnya minat kader dalam proses regenerasi dan pengelolaan organisasi. Karena itu, Mar’i mengundang seluruh elemen HMI untuk bersatu dalam kesetaraan, membuka ruang aspirasi seluas-luasnya, dan bersama-sama membangun HMI Cabang Sukabumi di bawah satu atap perjuangan yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *