Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Penulis merupakan praktisi pendidikan, pegiat literasi, pendidik, peneliti, pengabdi juga sebagai Dosen UIN SGD Bandung. Bidang kajian yang diminati adalah kepemimpinan dan manajemen pendidikan Islam. Tulisan-tulisan ini adalah salah satu seri tentang keresahan penulis yang pernah menjadi guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, asesor akreditasi, pengurus yayasan, aktivis organisasi, dan pengamat pendidikan.
—00—
Suatu pagi, dalam kunjungan saat menjadi asesor akreditasi BANSM ke sebuah Madrasah Aliyah di Kabupaten Bandung, saya sempat berbincang dengan seorang siswa kelas akhir. Ia tampak cerdas dan rajin. Saya bertanya, “Apa pelajaran yang paling kamu suka?” Ia menjawab, “Tafsir, Pak.” Tapi saat saya tanya, “Menurutmu, apa kaitannya tafsir dengan hidup di masa depan?” Ia terdiam lama. Lalu menjawab pelan, “Belum pernah ditanya begitu, Pak.”
Dialog singkat itu menyadarkan saya bahwa kurikulum kita seringkali kehilangan jembatan antara wahyu dan kehidupan. Ilmu disampaikan tanpa arah. Nilai diajarkan tanpa makna.
—000—-
Kurikulum: Bukan Daftar Pelajaran, tapi Jalan Peradaban
Secara bahasa, curriculum berasal dari kata Latin currere, yang berarti “jalur yang harus ditempuh.” Dalam pendidikan Islam, kurikulum idealnya menjadi jalan menuju insan kamil, manusia yang terdidik secara akal, hati, dan amal.
Namun dalam praktiknya, banyak sekolah Islam terjebak dalam format kurikulum yang berorientasi administratif, bukan holistik. Kurikulum hanya menjadi daftar mata pelajaran, bukan alat pembentuk peradaban.
Di sinilah relevansi pemikiran Nurcholish Madjid muncul. Dalam bukunya Islam, Doktrin dan Peradaban, Cak Nur menyatakan:
“Ilmu dalam Islam tidak hanya berarti pengetahuan rasional, tetapi juga berkaitan dengan nilai, tanggung jawab, dan makna.”
(Madjid, Nurcholish. 1997. Jakarta: Paramadina)
Dengan kata lain, kurikulum Islam harus menyatu antara kognisi, afeksi, dan aksi. Ia harus bisa menjawab: apa peran manusia di dunia ini, dan bagaimana ilmu menjadi jalan untuk menunaikan peran itu?
—000—-
Dilema Kurikulum Sekolah Islam: Terpecah dan Terpisah
Banyak lembaga pendidikan Islam mengalami fragmentasi kurikulum. Pelajaran agama diajarkan oleh ustaz, pelajaran umum oleh guru-guru yang dididik sekuler, dan nyaris tidak ada integrasi. Kadang tidak jarang terjadi belum bisa membaca Alqur’an.
Hingga Akibatnya:
Murid-murid belajar tauhid, tapi tak bisa melihat Allah dalam hukum fisika. Mereka hafal ayat, tapi asing dengan sains sosial dan dinamika global. Mereka baik secara moral pribadi, tapi gagap dalam kontribusi sosial.Dan seterusnya.
Cak Nur menggugat cara berpikir seperti ini. Dalam Islam Kemodernan dan Keindonesiaan, ia menulis:
“Tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Yang ada adalah keharusan untuk mengembangkan semua ilmu secara bertanggung jawab secara etis.”

(Madjid, Nurcholish. 1992. Bandung: Mizan)
—000—-
Inspirasi: Sekolah Islam yang Menyulam Ilmu dan Nilai
Saya pernah mengamati praktik baik di sebuah madrasah inovatif di Sukabumi. Di sana, pelajaran sejarah Islam tidak hanya bercerita tentang masa lalu, tapi dikaitkan dengan kepemimpinan hari ini. Di kelas matematika, guru mengajak siswa memahami keadilan zakat dan distribusi harta dengan angka dan data.
Sekolah ini tak hanya menyusun kurikulum, tapi menyulam kehidupan. Guru-gurunya tidak bekerja sekadar mengajar, tapi menanamkan makna. Anak-anaknya tak hanya cerdas, tapi juga tumbuh dengan kesadaran sosial dan tanggung jawab ilahiyah.
—000—-
Langkah Strategis dalam Manajemen Kurikulum Islami
Untuk menjadikan kurikulum sebagai wahana perubahan, beberapa hal penting perlu dilakukan:
1. Integrasi ilmu dan iman
Setiap mata pelajaran disusun dengan kesadaran nilai-nilai Islam. Bahkan fisika dan seni harus mengandung unsur tadabbur, bukan sekadar teknik.
2. Kurikulum tematik berbasis masalah (problem-based Islamic learning)
Anak-anak belajar Islam melalui persoalan nyata: kemiskinan, lingkungan, media sosial, dll.
3. Pelatihan guru lintas bidang dan lintas nilai
Guru tidak hanya diberi pelatihan pedagogi, tapi juga pelatihan spiritual dan kontekstualisasi nilai-nilai Islam dalam bidang ajarnya.
4. Kurikulum partisipatif
Guru, siswa, bahkan orang tua dilibatkan dalam pengembangan kurikulum. Dengan begitu, sekolah benar-benar menjadi laboratorium sosial.
—000—-
Penutup: Kurikulum sebagai Jalan Ibadah dan Perubahan
Cak Nur pernah menulis:
“Pendidikan adalah bagian dari ibadah. Karena itu, tidak boleh ada sekat antara belajar dan beriman, antara ilmu dan amal.”
(Madjid, Nurcholish. 2008. Islam Agama Kemanusiaan. Jakarta: Paramadina)
Kurikulum di sekolah Islam haruslah menjadi cahaya jalan yang membimbing siswa menjadi manusia yang utuh. Ia harus menjawab kebutuhan zaman, tanpa kehilangan arah langit. Ia harus menyentuh akal, tanpa meninggalkan hati. Dan yang paling penting: ia harus melahirkan anak-anak yang tahu arah hidup, bukan hanya tahu jawaban ujian.
Kalau sekolah Islam hanya menjadi tempat mentransfer materi, maka kita kehilangan maknanya sebagai madrasah ruhani dan sosial. Tapi jika kurikulum dirancang sebagai ladang amal dan medan dakwah, maka pendidikan akan menjadi salah satu jalan perubahan umat.
Pada akhirnya, kesadaran akan pentingnya kurikulum yang holistik, guru-guru yang juga pemahamannya tidak dikotomis, pimpinan lembaga yang tidak hanya administratif, akan mendorong lahirnya murid-murid yang inklusif dan aplikatif dalam kehidupannya sehari-hari.

