Oleh : Jaka Susila (Presidium MD KAHMI Sukabumi sekaligus Politisi Muda)
Acap kali bangsa ini rutin memperingati berikrarnya para tokoh pemuda dari seantero Nusantara yang tercatat dalam sejarah sebagai Hari Sumpah Pemuda, bukan hanya mengenang histori, namun pula menatap hari ini. Sumpah Pemuda bukan sekedar teks, melainkan energi abadi yang menegaskan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari mimpi besar generasi muda.
Meskipun belakangan ini kita para pemuda sedang didera dengan beraneka ragam himpitan persoalan, baik ekonomi, sosial, budaya bahkan pragmatisme politik. Namun menyadari bahwa kita tidak sedang berhadapan dengan kekosongan harapan. Di balik hiruk-pikuk politik yang sering tampak kaku dan elitis, sesungguhnya sedang tumbuh generasi muda yang membawa nilai baru dalam ruang-ruang politik. Politik yang dinamis yang lebih populis, akrab dengan issue kerakyatan.
Kaum muda hadir sebagai peneliti kebijakan, aktivis Pemilu dan demokrasi, penggerak komunitas, hingga kader muda partai politik. Generasi muda tidak lagi sekadar menjadi “pemilih pemula”, namun juga “arsitektur demokrasi”, orang-orang yang menyadari bahwa perubahan tidak lahir dari kekecewaan, melainkan dari keterlibatan.
Keikutsertaan tersebut tidak datang tanpa tantangan, sistem politik Indonesia masih diwarnai oleh hierarki dan biaya politik yang mahal. Tetapi tantangan itu bukan alasan untuk menjauh. Justru di sanalah relevansi perjuangan generasi muda hari ini, memperjuangkan perbaikan dari dalam. Anak muda di partai politik hari ini sedang mengerjakan sesuatu yang penting bahwa politik bukan sekadar ruang perebutan kekuasaan, tetapi ruang pembelajaran kolektif.
Berlimpah sekelompok anak muda di parpol yang mulai mengusulkan cara baru berpolitik seperti kebijakan berbasis riset, transparansi pendanaan, kaderisasi yang berbasis merit, forum ide lintas generasi, hingga kampanye berbasis gagasan. Ini adalah tanda bahwa politik kita sedang bergerak maju dan dinakhodai oleh generasi muda.
Dalam banyak riset, generasi muda disebut sebagai Gen Z yang memiliki terobosan baru berpolitik praktis. Meskipun realitasnya generasi ini tidak merevolusi sistem secara tiba-tiba, tetapi memperbaikinya langkah demi langkah. Di era digital, anak muda memiliki kekuatan yang tak dimiliki generasi sebelumnya yaitu kemampuan membangun narasi publik, menggerakkan opini, dan membentuk budaya politik baru yang lebih terbuka, kolaboratif, dan adaptif.
Kaum muda sebagian kecil menyadari bahwa partai politik adalah jantung demokrasi dan di sanalah generasi muda memiliki peran strategis untuk memastikan jantung itu tetap berdetak dengan sehat. Reformasi partai tidak mungkin terjadi tanpa keberanian kader mudanya untuk menantang cara lama. Dalam banyak partai, generasi muda mulai mendorong praktik politik yang lebih terbuka dan modern seperti memperjuangkan sistem kaderisasi yang ideal hingga memperkuat literasi politik digital agar partai lebih dekat dengan publik.
Kelompok muda juga membawa cara baru dalam memaknai loyalitas politik. Loyalitas hari ini bukan pada figur, tetapi pada nilai dan arah perjuangan. Generasi muda mendorong agar partai tidak hanya menjadi kendaraan elektoral lima tahunan, tetapi menjadi ruang pendidikan politik yang melahirkan pemimpin masa depan.
Dari dalam partai politik, kader muda membangun ruang dialog lintas generasi, bukan untuk menggantikan yang lama tetapi untuk memastikan regenerasi berjalan dengan sehat.
Hal tersebut adalah bentuk nyata reformasi dari dalam. Generasi muda berupaya menjembatani antara idealisme dan realitas politik, antara nilai dan kekuasaan. Banyak anak muda yang sudah sadar bahwa perubahan tidak bisa lahir dalam sekejap, tetapi bisa dimulai dari hal-hal sederhana seperti memperbaiki cara partai berkomunikasi dengan publik, mengubah pola kampanye dari transaksional ke substantif, serta memastikan keputusan partai berpihak pada kepentingan rakyat, bukan hanya elite.
Perubahan besar sering lahir dari langkah kecil. Forum-forum diskusi kader muda, advokasi kebijakan berbasis data, hingga inisiatif partai untuk membuka ruang kaderisasi adalah bentuk baru dari Sumpah Pemuda masa kini.
Bila tahun 1928 para pemuda menyatukan bangsa yang terpecah secara geografis, maka hari ini generasi muda berjuang untuk menyatukan politik yang terpecah belah. Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa kekuatan generasi muda bukan pada jumlah, tetapi pada keberanian untuk percaya bahwa arah sejarah bisa diubah. Kini, generasi muda harus menjadi penjaga akal sehat demokrasi yang tidak larut dalam pragmatisme, tetapi juga tidak lari dari tanggung jawab politik.
Kaum muda harus menyadari bahwa politik yang dijalankan dalam sistem yang diterapkan saat ini belum sepenuhnya berpihak, namun betapapun buruknya, masih bisa diperbaiki jika diisi oleh manusia-manusia yang jujur, tulus dan berniat baik. Kini, tantangannya bukan lagi bersatu melawan penjajahan, tetapi bersatu memperjuangkan reformasi politik dari akar terdalamnya, yaitu partai politik. Sebab tanpa partai yang sehat, demokrasi hanya menjadi ritual.
Namun dengan partai yang inovatif, politik bisa kembali menjadi jalan pengabdian. Selama masih ada generasi muda yang berani berjuang dari dalam partai politik, menolak pragmatisme, dan menegakkan integritas, maka demokrasi Indonesia masih punya masa depan.

