Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju: Refleksi Kupas Tipis Tema HUT RI ke-80 Tahun 2025

Oleh: Dr. H. Mulyawan Safwandy Nugraha, M.Ag., M.Pd.

Dosen Tetap S2 Manajemen Pendidikan IslamUIN Sunan Gunung Djati Bandung

Jika Kita berkumpul untuk ngobrol soal ulang tahun rumah besar kita, Republik Indonesia, yang tahun ini genap delapan puluh tahun, maka, apa yang akan dibahas? Delapan puluh tahun, lho. Kalau manusia, umur segini sudah banyak uban, jalannya pelan, tapi kalau pikirannya sehat dan hatinya jernih, justru tambah bijaksana.

Tema tahun ini: _Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju_. Ini bukan sekadar kata-kata manis di spanduk kantor desa, kelurahan dan atau kecamatan. Ini ibarat empat tiang rumah kita.

Kalau satu tiang goyah, rumah ini bisa miring. Kalau dua roboh, kita kehujanan. Kalau semua tiang patah, ya bubar jalan.

Mari kita refleksi dnegan kupas tipis-tipis, satu persatu. Harapannya sebagai refleksi untuk aksi.

Bersatu

Bersatu itu, bukan berarti semua harus sama. Kalau semua sama, malah nggak indah. Bayangkan kalau semua orang di kampung ini suaranya fals semua, siapa yang mau nyanyi di hajatan? Bersatu itu artinya saling mengikat hati, meski warna baju beda, logat bicara beda, bahkan pendapat pun beda.

Saya teringat waktu kecil di kampung. Kalau ada yang nikah, tetangga nggak nanya kamu Golkar atau PDI, Muhammadiyah atau NU, apalagi soal pilihan presiden. Semua datang bantu: ada yang masak, ada yang nyumbang kursi, ada yang jagain parkir. Nggak ada yang cek KTP dulu. Nah, itu persatuan.

Di zaman sekarang, persatuan kita diuji bukan cuma soal politik, tapi juga soal pikiran. Media sosial kadang bikin kita gampang marah, gampang tersinggung. Kita lebih cepat percaya berita hoaks daripada tetangga yang tiap hari kita sapa. Persatuan itu harus dijaga dengan sabar, karena setan itu senang sekali kalau kita pecah-belah.

Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Berpeganglah kamu semua pada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS Ali Imran: 103).

Nah, tali Allah ini bukan cuma tali yang mengikat kita dengan-Nya, tapi juga tali yang mengikat kita satu sama lain.

Berdaulat

Berdaulat itu kalau kita bisa ngatur rumah tangga kita sendiri. Kalau kita makan dari sawah kita sendiri, minum dari sumur kita sendiri, dan tidak tergantung pada orang luar untuk kebutuhan pokok. Kalau kita punya kedaulatan ekonomi, kita bisa memutuskan arah bangsa tanpa takut diatur-atur.

Saya pernah ngobrol dengan nelayan di pesisir pantai Jawa Barat. Mereka dikasih kapal bagus sama pemerintah. Senang, dong. Tapi dua tahun kemudian mesin kapal rusak. Eh, onderdilnya harus impor. Akhirnya kapal mangkrak di dermaga. Itulah contoh bahwa berdaulat itu bukan cuma punya barang, tapi menguasai ilmunya. Jangan sampai kita seperti orang punya rumah mewah, tapi kuncinya dipegang orang lain.

Berdaulat juga soal budaya. Jangan sampai kita minder sama bangsa lain. Saya pernah lihat anak muda kita hafal lagu-lagu luar negeri, tapi nggak tahu lagu daerahnya sendiri. Nggak salah belajar budaya luar, tapi jangan lupa rumah sendiri. Kalau orang luar bisa bangga dengan budayanya, kenapa kita malah gengsi?

Rakyat Sejahtera

Nah, ini tiang yang paling kelihatan hasilnya. Sejahtera itu bukan berarti semua orang punya mobil mewah. Sejahtera itu kalau rakyat bisa makan cukup, anak-anak sekolah tanpa takut biaya, dan orang sakit bisa berobat tanpa bingung ongkos.

Waktu saya ke pelosok di salah satu desa di Sukabumi, saya lihat anak-anak belajar di sekolah yang bangkunya reyot, bukunya tipis, tapi mata mereka berbinar-binar. Sejahtera itu kalau binar itu bisa terus menyala sampai mereka dewasa, kalau mereka punya kesempatan yang sama seperti anak-anak di Jakarta atau Surabaya.

Orang sering kira kesejahteraan itu cuma angka di slip gaji, deret nol di buku tabungan, atau luas tanah yang dimiliki. Padahal, kesejahteraan itu kadang sederhana sekali, dan justru karena sederhana itulah ia mahal.

Lihatlah petani. Dia bisa bekerja dari pagi hingga petang, memanggul matahari di pundaknya, menanam harapan di tanahnya. Tapi kalau malam dia rebah dan matanya tak kunjung terpejam karena besok dia tidak tahu apakah gabahnya dibeli dengan harga yang adil, itu namanya dia belum sejahtera. Sebaliknya, kalau dia bisa tidur nyenyak karena yakin besok panennya dihargai dengan wajar, itulah sejahtera.

Lihatlah nelayan. Dia hafal setiap tarikan ombak, dia akrab dengan bau garam dan suara angin laut. Tapi kalau setiap kali melaut dia harus was-was kapalnya dihadang atau ditabrak kapal asing yang merasa berkuasa di laut orang, itu namanya dia belum sejahtera. Sebaliknya, kalau dia bisa melaut tanpa rasa takut, pulang membawa hasil tangkapan dengan hati lega, itulah sejahtera.

Lihatlah buruh. Dia berangkat kerja pagi-pagi, pulang ketika senja sudah redup. Tubuhnya lelah, tapi yang lebih melelahkan adalah rasa putus asa ketika gaji yang diterima tidak cukup menutup biaya hidup. Itu namanya belum sejahtera. Sebaliknya, kalau dia pulang dengan senyum yang tulus, karena tahu hasil kerjanya mencukupi, bahkan bisa sedikit menabung, itulah sejahtera.

Maka, sejahtera itu bukan sekadar isi kantong. Sejahtera adalah rasa aman, sebagaimana janji Allah kepada kaum Quraisy: “(Yaitu Tuhan) yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut” (QS. Al-Quraisy [106]: 4). Sejahtera itu kepastian bahwa jerih payah akan dibalas setimpal, sebagaimana janji-Nya bahwa setiap usaha akan mendapat ganjaran yang adil.

Sejahtera adalah tidur tanpa was-was, makan tanpa rasa khawatir, dan bekerja tanpa rasa terancam. Sebab, keamanan jiwa dan kecukupan rezeki adalah dua nikmat besar yang sering kita lupa syukuri. Itulah yang Allah sebutkan sebagai fondasi kehidupan Quraisy: kenyang dan aman, cukup dan tenteram.

Sejahtera, singkatnya, adalah hati yang damai karena rezeki datang bersama rasa adil, sebuah keadaan yang hanya mungkin tercapai bila kita menegakkan persatuan, memelihara keadilan, dan menjaga amanah bersama. Tanpa keamanan, kemakmuran hanyalah fatamorgana; tanpa keadilan, kekayaan hanya menjadi sumber sengketa. Tetapi bila keduanya bersatu, negeri ini akan menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, tanah yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun memberkahinya.

Indonesia Maju

Maju itu bukan cuma punya gedung tinggi atau jalan tol. Maju itu kalau warganya cerdas, kreatif, berakhlak. Maju itu kalau kita punya teknologi sendiri, nggak cuma jadi pasar barang luar negeri. Maju itu kalau kita bisa mengirim ilmu, karya seni, dan gagasan ke dunia, bukan cuma mengirim bahan mentah.

Saya pernah ke Korea Selatan. Saat itu tahun 2010. Mereka cerita bagaimana dulu negaranya miskin sekali, tapi mereka sepakat: pendidikan harus jadi prioritas. Disiplin, kerja keras, dan rasa bangga pada identitas sendiri. Hasilnya, sekarang mereka bisa bikin teknologi yang kita pakai tiap hari. Indonesia bisa seperti itu kalau kita mau belajar, mau kerja sama, dan mau menjaga integritas.

Tapi ingat, kemajuan tanpa moral itu bahaya. Kalau teknologi maju tapi hati kering, nanti yang terjadi cuma kerusakan yang lebih cepat. Jadi kemajuan harus seiring dengan budi pekerti.

Empat Tiang, Satu Rumah

Bersatu, berdaulat, rakyat sejahtera, Indonesia maju—ini bukan proyek pemerintah saja. Ini proyek kita semua. Pemerintah mungkin bisa bikin kebijakan, tapi kita yang menjalankannya. Persatuan tidak akan bertahan kalau kita sendiri suka memecah belah. Kedaulatan tidak akan tegak kalau kita sendiri malas belajar dan konsumtif. Kesejahteraan tidak akan merata kalau kita acuh pada tetangga. Kemajuan tidak akan terjadi kalau kita gengsi untuk belajar hal baru.

Kalau Cak Nun yang bicara, beliau mungkin bilang: “Negara ini kayak perahu. Yang nyetir boleh presiden, tapi yang mendayung kita semua. Kalau kita diam saja, perahu ini nggak akan maju. Kalau kita malah melubangi perahu, semua tenggelam, termasuk kita sendiri.

”Mari kita ingat, kemerdekaan ini dibayar mahal. Dulu pejuang kita rela lapar, rela hiduup susah, rela mati, demi kita bisa hidup bebas. Masa kita mau mengkhianati itu dengan malas, atau malah merusak persatuan?

Delapan puluh tahun adalah usia matang untuk bangsa. Kita sudah belajar banyak dari masa lalu: pernah terpecah, pernah miskin, pernah dikhianati, tapi juga pernah bersatu menghadapi bencana, pernah bangkit dari krisis, pernah bersatu menhadapi wabah penyakit menular, pernah mengharumkan nama di dunia.

Sekarang tahun 2025, kita sedang menuju 2045, satu abad Indonesia merdeka. Pertanyaannya: mau jadi apa kita? Apakah kita akan jadi bangsa yang disegani, atau cuma penonton di panggung dunia? Jawabannya ada di tangan kita, bukan hanya pemerintah.

Pepatah Jawa mengatakan, “Urip iku urup”, hidup itu menyala. Menyala karena kita memberi manfaat. Dalam kearifan Sunda, ada ungkapan “Hirup kudu hurip,” hidup harus menghidupkan. Artinya, keberadaan kita semestinya memberi daya bagi orang lain, seperti mata air yang terus mengalir memberi kesegaran bagi sawah, ladang, dan kehidupan di sekitarnya.

Mari kita nyalakan hidup kita dengan manfaat yang nyata bagi bangsa ini: jaga persatuan seperti bambu yang saling merapat menopang rumpunnya; perkuat kedaulatan layaknya kujang yang teguh menjaga kehormatan; sejahterakan rakyat seperti hujan yang membasahi bumi tanpa pilih kasih; dan majukan negeri sebagaimana padi yang makin berisi makin merunduk.

Jika semua tiang ini tegak, insya Allah rumah besar bernama Indonesia akan kokoh seperti ”imah Sunda” yang berdiri di atas pondasi gotong royong, nyaman untuk ditinggali, dan membanggakan bagi kita serta anak cucu kelak. Seperti paribasa Sunda nyebut, “Silih asih, silih asah, silih asuh”, yang artinya saling mengasihi, saling mencerdaskan, dan saling membimbing, itulah nyala kehidupan yang sejati.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80 Tahun 2025.

MERDEKA…!!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *