Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI: Iman, Ilmu, dan Amal dalam Konteks Islam Transformatif

oleh : Mulyawan Safwandy Nugraha

Pendahuluan

Sejak didirikan pada 5 Februari 1947, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah menjadi salah satu kekuatan moral dan intelektual yang konsisten dalam mengawal perubahan sosial di Indonesia. Di tengah dinamika sejarah, HMI bukan hanya hadir sebagai organisasi kemahasiswaan, melainkan sebagai ruang pembentukan karakter, ideologi, dan peran strategis generasi muda Islam. Dalam proses pembinaan kadernya, HMI memiliki dokumen ideologis yang sangat fundamental, yakni Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP), yang bertumpu pada tiga pilar utama: Iman, Ilmu, dan Amal.

Ketiga nilai tersebut tidak berdiri sendiri. Iman menanamkan keyakinan dan keberanian moral; ilmu membentuk cara pandang kritis dan objektif; sementara amal menuntut penerjemahan nyata dari keduanya dalam kehidupan sosial. Menariknya, jika ketiga nilai ini diletakkan dalam kerangka pemikiran Islam transformatif, maka akan tampak bahwa NDP tidak hanya mengarahkan kader kepada kesalehan individual, tetapi juga mendorong peran aktif dalam menciptakan tatanan masyarakat yang adil dan beradab.

—000—

1. Iman: Spiritualitas yang Membebaskan

Dalam NDP, iman dimaknai bukan sekadar urusan teologis atau ritualistik, tetapi sebagai energi moral yang menggerakkan sikap hidup. Iman yang dimaksud bukan hanya meyakini eksistensi Tuhan, tetapi juga menumbuhkan keberanian untuk menyuarakan kebenaran, menentang ketimpangan, dan berpihak pada mereka yang terpinggirkan. Nilai ini sangat relevan dengan pendekatan Islam transformatif, yang melihat iman bukan sebagai ruang personal semata, tetapi juga sebagai dorongan etis untuk terlibat dalam perubahan sosial (Abdillah, 2013).

Dalam realitas hari ini, iman kerap tereduksi menjadi simbol atau identitas yang bersifat seremonial. Padahal, iman yang sejati semestinya memunculkan tanggung jawab sosial. Sebagai kader HMI, internalisasi nilai iman berarti menolak tunduk pada pragmatisme, konsumerisme, dan kekuasaan yang tidak adil. Ini adalah iman yang memanggil untuk bertindak.

—000—

2. Ilmu: Kesadaran Kritis atas Realitas

Ilmu, dalam tradisi HMI, tidak dimaknai sekadar sebagai pengetahuan teknis. NDP mendorong kader untuk memahami ilmu sebagai alat untuk membaca realitas secara objektif dan membongkar struktur ketidakadilan yang ada. Dengan kata lain, ilmu adalah cara untuk menciptakan perubahan, dan bukan sekadar alat mobilitas sosial atau prestise akademik.

Dalam kerangka Islam transformatif, ilmu menjadi kekuatan untuk menumbuhkan kesadaran kritis. Para pemikir seperti Fazlur Rahman (1982) telah menekankan pentingnya pembacaan kontekstual terhadap ajaran Islam dalam merespons tantangan zaman. Kader HMI, dengan bekal intelektualitasnya, tidak cukup hanya memahami teks, tetapi juga konteks. Maka penting bagi HMI untuk menghidupkan kembali budaya riset, diskusi terbuka, serta keterlibatan dalam isu-isu strategis melalui pendekatan ilmiah yang jujur dan berpihak.

Namun tantangannya tidak kecil. Di era informasi seperti sekarang, mudah sekali terjebak pada wacana instan, narasi populis, atau sekadar menjadi penyebar opini tanpa dasar keilmuan. Justru di sinilah nilai NDP menjadi penting sebagai fondasi etis dalam memproduksi dan menyebarkan ilmu yang mencerahkan.

—000—

3. Amal: Gerakan Nyata untuk Keadilan

Jika iman adalah dasar moral dan ilmu adalah instrumen berpikir, maka amal adalah wujud nyatanya. Dalam kerangka NDP, amal bukan hanya berbuat baik secara personal, melainkan bertindak dalam ruang sosial untuk menciptakan perubahan yang terukur dan terarah. Ini adalah kerja-kerja nyata yang menyentuh masyarakat, baik melalui advokasi kebijakan, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, hingga gerakan lingkungan hidup.

Amal dalam NDP sangat sejalan dengan etos Islam transformatif. Amal tidak dilakukan untuk popularitas atau pencitraan, tetapi sebagai kewajiban etis dan spiritual. Dalam praktiknya, amal kader HMI bisa terlihat dari keterlibatan mereka di tengah komunitas—mengorganisasi masyarakat desa, mendampingi UMKM, memperjuangkan akses pendidikan, atau mengadvokasi kebijakan publik yang lebih adil (Fakih, 2001; Zarkasyi, 2018).

Yang menjadi tantangan adalah inkonsistensi. Tidak sedikit kader yang kuat secara ide tapi lemah dalam aksi. Dalam beberapa kasus, amal menjadi simbolik: proyek semata atau aktivitas musiman. Padahal, nilai amal menuntut kesinambungan dan komitmen jangka panjang. Untuk itu, HMI perlu terus membangun budaya aksi yang berbasis nilai dan analisis, bukan hanya reaktif terhadap momentum.

—000—

4. Menyatukan Iman, Ilmu, dan Amal: Jalan Panjang Islam Transformatif

Yang menarik dari rumusan NDP adalah sifat integratifnya. Iman tanpa ilmu bisa menjadi buta. Ilmu tanpa amal bisa menjadi kering. Amal tanpa dasar iman dan ilmu bisa terjebak pada aktivisme kosong. Ketiga nilai ini saling menguatkan. Dalam konteks gerakan Islam transformatif, NDP HMI memberikan kerangka yang kokoh dan fleksibel untuk menghadapi zaman yang berubah cepat.

Kader HMI hari ini tidak cukup hanya menjadi pemikir atau aktivis, tetapi harus menjadi intelektual organik—mereka yang berpikir kritis, memiliki spiritualitas, dan terlibat dalam perjuangan masyarakat. NDP, jika dihidupkan secara serius dalam kaderisasi dan praksis gerakan, akan melahirkan generasi pemimpin yang bukan hanya cakap berpikir, tetapi juga tangguh dalam bertindak.

—000—

Penutup

Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, tantangan ideologis, dan kompleksitas sosial, keberadaan dokumen seperti Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI menunjukkan pentingnya pijakan nilai dalam gerakan mahasiswa Islam. Iman, Ilmu, dan Amal bukan sekadar jargon, tetapi tawaran jalan hidup: spiritualitas yang membebaskan, intelektualitas yang membangun kesadaran, dan aksi nyata yang berpihak pada rakyat.

Jika nilai-nilai ini terus diperkuat—baik melalui proses kaderisasi, advokasi sosial, maupun keterlibatan strategis di ruang publik—maka HMI tidak hanya akan tetap relevan, tetapi juga menjadi kekuatan transformasi sosial yang otentik, progresif, dan sesuai dengan misi Islam sebagai rahmat bagi semesta.

Referensi

Abdillah, M. (2013). Islam dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: LKiS.Fadillah, R. (2020). Nilai Dasar Perjuangan HMI: Relevansi dan Tantangannya di Era Kontemporer. Jurnal Pemikiran Islam, 18(2), 115–130.Fakih, M. (2001). Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: INSIST Press.Hidayat, D. (2019). Islam, Civil Society, dan Transformasi Sosial di Era Digital. Jurnal Sosioteknologi, 18(3), 212–225.Madjid, N. (1992). Islam, Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina.Muhtadi, B. (2022). Politik Umat: Dari Ormas ke Partai. Jakarta: LP3ES.Rahman, F. (1982). Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Chicago: University of Chicago Press.Zarkasyi, H. F. (2018). Reorientasi Gerakan Mahasiswa Islam di Era Globalisasi. Jurnal Sosial dan Budaya Syar’i, 5(1), 49–65.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *