Mempersiapkan Ramadhan Tahun Ini yang Berbeda

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha* *)

Allah menegaskan dalam Alquran surat ar-Ra’d ayat 11 bahwa perubahan tidak akan terjadi sampai manusia mengubah dirinya sendiri. Ayat ini bukan sekadar motivasi. Ini adalah hukum kehidupan. Jika Anda ingin Ramadan tahun ini berbeda, maka pola pikir, kebiasaan, dan perencanaan Anda harus berbeda. Jangan berharap hasil baru dengan cara lama. Ramadan bukan rutinitas tahunan. Ia adalah momentum perubahan diri yang terukur.

Tujuan utama shaum sudah jelas dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 183. Puasa diwajibkan agar kita menjadi orang yang bertakwa. Artinya, target Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Targetnya adalah taqwa. Taqwa berarti Anda sadar penuh pada Allah dalam setiap keputusan. Anda taat saat sendiri. Anda berhenti saat tergoda. Anda bergerak karena perintah, bukan karena suasana.

Banyak ayat lain menegaskan keuntungan orang bertakwa. Dalam surat al-Baqarah ayat 194 Allah bersama orang bertakwa. Dalam al-Baqarah ayat 282 Allah memberi ilmu kepada orang bertakwa. Dalam al-Anfal ayat 29 Allah memberi furqan atau kemampuan membedakan benar dan salah. Dalam at-Talaq ayat 2 sampai 3 Allah menjanjikan jalan keluar dan rezeki yang tak disangka. Artinya, taqwa bukan konsep abstrak. Ia berdampak langsung pada hidup Anda.

Karena itu, saya melihat shaum sebagai madrasah ilahiyah. Sebuah sekolah langsung dari Allah. Di dalamnya Anda dilatih disiplin, jujur, dan sabar. Anda tidak makan bukan karena tidak ada makanan. Anda tidak minum bukan karena tidak ada air. Anda berhenti karena Allah memerintah. Di sinilah pendidikan karakter paling jujur terjadi. Tidak ada pengawasan manusia. Yang ada hanya kesadaran iman.

Nabi Muhammad SAW memberi syarat yang sangat jelas. Siapa yang berpuasa Ramadan dengan iman dan ihtisaban, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dua kata ini penting. Iman berarti Anda benar-benar yakin bahwa Allah memerintahkan puasa. Anda yakin Allah mengawasi puasa Anda. Anda yakin Allah membalasnya. Keyakinan ini melahirkan kesungguhan. Anda tidak asal jalan. Anda serius.

Ihtisaban berarti terencana. Puasa bukan spontanitas. Ia harus diprogram. Dalam kehidupan sehari-hari Anda merencanakan keuangan, karier, dan pendidikan. Mengapa Ramadan sering Anda jalani tanpa rencana? Jika rezeki bisa datang karena usaha terencana, maka pahala pun harus Anda jemput dengan strategi. Puasa yang efektif adalah puasa yang disiapkan sebelum masuk 1 Ramadan.

Saya biasa memakai pendekatan IPOOG. Input, Proses, Output, Outcome, Goal. Inputnya adalah Anda sebagai orang beriman. Prosesnya adalah shaum yang benar. Outputnya adalah taqwa. Outcome-nya adalah bersih dari dosa. Goal akhirnya adalah surga. Jika Anda ingin sampai pada goal, maka fokuslah pada proses. Perbaiki kualitas puasa Anda. Jangan hanya menghitung hari. Ukur perubahan diri.

Kunci seluruh rangkaian ini adalah taqwa. Maka buat daftar ibadah yang akan Anda pasang dalam sistem hidup Ramadan. Puasa wajib tentu yang utama. Lalu shalat berjamaah. Tambahkan shalat sunnah. Biasakan qiyamullail. Targetkan tilawah harian. Sisihkan sedekah. Sediakan waktu untuk dzikir, istigfar, dan doa. Jangan biarkan Ramadan berjalan tanpa checklist pribadi.

Di sisi lain, Anda juga harus membuat daftar yang akan dihapus. No ghibah. No dusta. No kata kasar. No tontonan cabul. No pertengkaran. No waktu terbuang sia-sia. Jika Anda tidak mendefinisikan dosa yang ingin dihentikan, maka kebiasaan lama akan tetap hidup. Ramadan harus menjadi bulan uninstall kebiasaan buruk. Bukan hanya menambah ibadah, tetapi juga mengurangi maksiat.

Susun rencana harian secara konkret. Pagi dimulai dengan shalat Subuh berjamaah. Lanjut dzikir sampai isyraq. Bekerja atau belajar dengan niat ibadah. Sisipkan dhuha. Jaga lisan di tempat kerja. Dzuhur berjamaah. Sedekah walau sedikit. Sore isi dengan tilawah dan shalawat. Malam buka puasa dengan syukur. Maghrib dan Isya berjamaah. Tarawih. Baca Quran lagi. Bangun malam untuk tahajud dan istigfar. Sahur dengan doa. Rencana yang jelas memudahkan eksekusi.

Agar rencana berhasil, lakukan PPDCK. Plan. Tulis target Anda. Prepare. Pelajari fiqih puasa agar tidak salah praktik. Lakukan uji coba sejak Sya’ban. Do. Jalankan dengan niat ikhlas dan disiplin. Celebrate. Rayakan keberhasilan pada Idul Fitri dengan rasa syukur. Keep it up. Jangan berhenti setelah takbir berkumandang. Lanjutkan amalan minimal enam hari di Syawal sebagai post test pribadi.

Saya percaya evaluasi sangat penting. Setiap malam sebelum tidur, tanya diri Anda. Apakah hari ini lebih baik dari kemarin. Apakah lisan lebih terjaga. Apakah waktu lebih produktif. Catat kemajuan kecil. Perubahan besar lahir dari konsistensi kecil. Jangan menunggu sempurna untuk bergerak. Mulai dari target realistis. Tingkatkan perlahan.

Ramadan adalah kesempatan emas yang datang setahun sekali. Anda tidak tahu apakah masih bertemu Ramadan berikutnya. Maka persiapkan dengan serius. Jadikan ia proyek perubahan diri paling penting tahun ini. Jika Anda masuk Ramadan dengan rencana yang jelas dan keluar dengan jiwa yang lebih bersih, maka Anda telah menjalani madrasah ilahiyah dengan efektif. Perubahan itu dimulai dari keputusan Anda hari ini.

—-*) Direktur Research and Literacy Institute; Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung; Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi; Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Sukabumi, Penulis, Editor dan Reviewer pada Jurnal Ilmiah Bereputasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *