Hadapi Era Digital, Dewan Pendidikan Kota Sukabumi Bekali Ratusan Guru dengan Literasi AI

SUKABUMI, Kamandang.id – Ratusan tenaga pengajar dari berbagai jenjang pendidikan di Kota Sukabumi berkumpul di Aula SMKN 1 Kota Sukabumi, Jumat (28/11/2025). Mereka mengikuti seminar pendidikan bertajuk “Tantangan dan Arah Transformasi Pendidikan di Era Artificial Intelligence” yang diinisiasi oleh Dewan Pendidikan Kota Sukabumi.

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30 WIB ini diikuti oleh 200 guru mulai dari jenjang TK, SD, SMP, hingga MTs se-Kota Sukabumi. Langkah ini diambil sebagai respons cepat terhadap perkembangan teknologi yang kian masif merambah dunia pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Sukabumi, Novian Restiadi, yang hadir membuka acara, memberikan apresiasi tinggi kepada Dewan Pendidikan atas inisiatif penguatan kapasitas guru ini. Dalam sambutannya, Novian menekankan posisi teknologi sebagai pendukung, bukan pengganti esensi pendidikan.

“AI bisa jadi ancaman kalau tidak dipahami. Tapi kalau dipakai dengan bijak, AI bisa membantu guru. Peran guru tetap tidak akan tergantikan karena guru punya hati dan intuisi,” tegas Novian.

Ia menambahkan, penguasaan teknologi kini telah menjadi bagian dari kompetensi dasar yang harus dimiliki guru masa kini agar tetap relevan dalam proses pembelajaran.Senada dengan hal tersebut, Ketua Dewan Pendidikan Kota Sukabumi, Mulyawan Safwandy Nugraha, menegaskan bahwa literasi Artificial Intelligence (AI) bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

“Guru perlu belajar AI agar tidak jadi korban. Bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi supaya guru mampu memanfaatkannya dengan benar,” ujar Mulyawan kepada awak media. Ia juga menyampaikan apresiasinya atas dukungan penuh dari Wali Kota, Wakil Wali Kota, Sekda, serta Dinas Pendidikan terhadap terselenggaranya acara ini.

Seminar ini menghadirkan narasumber E. Dike Mariske, S.Pd., M.PKim., Pengawas SMA KCD Provinsi Jawa Barat. Dalam paparan yang dipandu oleh moderator Anang, M.Pd., Dike mengajak para guru untuk mengubah pola pikir terhadap teknologi.

“Guru hanya perlu memahami cara kerjanya. Setelah itu kita bisa memanfaatkan fitur AI untuk memperkaya pembelajaran,” jelas Dike. Ia menekankan bahwa AI harus diposisikan sebagai alat bantu (tools), bukan pusat dari proses belajar mengajar.

Acara yang turut dihadiri oleh Ketua PGRI Kota Sukabumi serta organisasi mitra seperti HIMPAUDI dan IGTK ini mendapat sambutan hangat dari peserta. Salah seorang guru SD asal Kecamatan Cikole mengaku mendapatkan wawasan baru yang praktis.

“Saya baru sadar bahwa AI bisa dipakai untuk membuat bahan ajar sederhana. Ternyata tidak serumit yang saya bayangkan,” ungkapnya.

Melalui seminar ini, Dewan Pendidikan berharap para pendidik di Kota Sukabumi semakin siap menghadapi disrupsi teknologi, sekaligus mendorong pemanfaatan inovasi yang tetap menempatkan guru sebagai pusat pembentukan karakter peserta didik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *