Sumpah Pemuda di Era Algoritma (Refleksi untuk 28 Oktober 2025)

Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha

Ketua Dewan Pendidikan Kota SukabumiDirektur Research and Literacy Institute (RLI)Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung


Saya sering berpikir, bagaimana jadinya jika para pemuda tahun 1928 hidup di zaman algoritma ini? Mungkin mereka tidak akan berdebat tentang bahasa persatuan, tapi tentang kebenaran yang tercecer di dunia maya. Mungkin mereka tidak akan menulis di koran-koran pergerakan, melainkan membuat thread panjang di media sosial, mencoba mengingatkan kita tentang arti menjadi manusia Indonesia.

Sumpah Pemuda dulu lahir dari keresahan yang jujur. Keresahan tentang bangsa yang tercerai, tentang lidah yang berbeda, tentang mimpi yang belum punya arah. Kini, keresahan itu hadir dalam bentuk lain. Kita bukan lagi terjajah oleh bangsa asing, tapi oleh algoritma yang mengatur apa yang kita lihat, pikir, dan percayai.


Saya kadang merasa, kita hidup di dunia yang serba cepat, tapi kehilangan kedalaman. Setiap kali membuka ponsel, dunia seolah berlomba membuat kita lupa berpikir. Kita diseret oleh arus trending topic, oleh sensasi, oleh hal-hal yang tampak penting tapi sesungguhnya kosong. Lalu, diam-diam, kita kehilangan daya untuk merenung.

Sumpah Pemuda di era algoritma seharusnya bukan lagi tentang sumpah “satu nusa, satu bangsa, satu bahasa,” melainkan tentang satu kesadaran: bahwa kebenaran, kemanusiaan, dan akal sehat tidak boleh tunduk pada algoritma. Kita perlu bersatu, bukan hanya dalam tanah dan bahasa, tapi juga dalam kesadaran digital, kesadaran bahwa dunia maya juga bagian dari kehidupan berbangsa.


Dulu, para pemuda menulis manifesto. Sekarang, kita menulis caption. Tapi esensinya sama: ingin didengar. Bedanya, dulu mereka menulis untuk membebaskan, sekarang banyak yang menulis untuk dikenal. Dan di situlah letak masalahnya.

Saya pernah membaca status seorang teman: “Zaman sekarang, yang viral dianggap benar.” Saya hanya diam, tapi kalimat itu menancap lama di kepala. Betapa ngeri membayangkan, kalau kebenaran diukur dari seberapa banyak disukai. Padahal, kebenaran sering kali sunyi, bahkan tak populer.


Di tengah gegap gempita dunia digital ini, saya melihat paradoks yang aneh. Kita seolah semakin terhubung, tapi sesungguhnya semakin terpisah. Kita punya ribuan teman di media sosial, tapi tak punya waktu untuk menatap wajah seseorang dan benar-benar mendengarkannya. Kita bicara soal empati, tapi komentar kita di kolom orang lain penuh caci.

Sumpah Pemuda hari ini seharusnya menjadi momen untuk bertanya ulang: masihkah kita bersatu dalam semangat kebangsaan, atau kita kini terpecah dalam ruang gema algoritma? Masihkah kita berjuang untuk cita bersama, atau sibuk membangun citra pribadi?


Saya jadi teringat pada satu sore di kampus, beberapa tahun lalu. Mahasiswa saya datang dengan wajah lelah. Ia bilang, “Pak, saya capek jadi orang baik. Orang jujur itu kalah di media sosial.” Saya hanya bisa tersenyum, lalu menjawab pelan, “Mungkin memang kalah di algoritma, tapi tidak di mata Allah.”

Itulah kenyataan pahit generasi ini. Kita dibentuk oleh algoritma yang menilai cepat, tapi kehidupan selalu menuntut ketulusan yang pelan. Dunia digital membuat segalanya instan: perhatian, pujian, bahkan kemarahan. Namun, makna hidup tidak pernah bisa diinstankan. Ia butuh perjalanan, refleksi, dan kadang luka.


Kalau para pemuda 1928 bersumpah di hadapan bangsa, maka pemuda hari ini perlu bersumpah di hadapan nurani. Sumpah untuk menjaga akal sehat di tengah banjir informasi. Sumpah untuk tetap berpihak pada kemanusiaan di tengah budaya bising yang membenarkan kebohongan. Sumpah untuk menggunakan teknologi, bukan diperbudak olehnya.

Saya yakin, di setiap generasi, ada bentuk perjuangan yang berbeda. Dulu, perjuangan dilakukan dengan bambu runcing. Sekarang, perjuangan dilakukan dengan klik dan scroll. Tapi substansinya tetap sama: bagaimana kita menegakkan nilai, bagaimana kita menjaga makna persatuan, dan bagaimana kita tetap manusia di tengah arus yang nyaris menghapus kemanusiaan itu sendiri.


Kadang saya merenung, apa arti nasionalisme hari ini? Dulu, ia berarti berjuang melawan penjajah. Sekarang, mungkin nasionalisme berarti menjaga logika waras, melawan hoaks, menjaga etika di ruang publik, dan menolak dijajah oleh kebodohan yang viral.

Kita perlu pemuda yang tidak hanya melek teknologi, tapi juga melek moral. Yang bukan hanya pandai membuat konten, tapi juga peka membaca hati. Karena bangsa ini tidak akan hancur oleh kurangnya kecerdasan digital, tapi oleh hilangnya kejujuran dalam menggunakannya.

—————

Saya sering membaca kisah tentang para pendiri bangsa yang berdebat habis-habisan, tapi tetap saling menghormati. Mereka berbeda pandangan, tapi tidak kehilangan arah. Lalu saya melihat komentar-komentar di media sosial hari ini, tentang politik, agama, atau hal remeh, yang begitu mudah berubah jadi permusuhan. Saya kadang bertanya, di mana warisan kesantunan itu kini disembunyikan?

Sumpah Pemuda di era algoritma seharusnya mengajarkan kita satu hal penting: perbedaan itu fitrah, tapi kebencian itu pilihan. Kita boleh berbeda pendapat, tapi jangan kehilangan rasa hormat. Karena bangsa besar tidak diukur dari keseragaman pikirannya, tapi dari kedewasaan jiwanya.


Beberapa waktu lalu, saya mencoba bereksperimen kecil: satu minggu tanpa media sosial. Awalnya aneh, sepi, bahkan canggung. Tapi di hari ketiga, saya mulai bisa mendengar kembali, bukan hanya suara orang, tapi juga suara hati sendiri. Saya sadar, terlalu banyak hal baik yang tenggelam karena terlalu sering online. Kadang yang kita butuhkan bukan sinyal internet, tapi sinyal batin.

Mungkin ini yang dimaksud Sumpah Pemuda di masa kini: berani kembali menyimak, berani melambat, berani berpikir jernih di tengah bisingnya dunia digital. Karena sesungguhnya, bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh orang yang cepat, tapi oleh orang yang sadar.


Akhirnya saya menyadari, Sumpah Pemuda tidak pernah benar-benar selesai diucapkan. Ia terus diperbarui, disesuaikan dengan zaman, dan dihidupi oleh hati yang jujur.

Hari ini, ketika dunia diatur oleh algoritma, Sumpah Pemuda menantang kita untuk bersatu kembali, bukan hanya dalam wacana, tapi dalam makna. Untuk berpihak pada kebenaran meski tidak viral. Untuk menyuarakan akal sehat meski tak populer. Untuk mencintai bangsa ini, bahkan ketika dunia maya membuatnya tampak lelah dan retak.

Karena di atas semua algoritma, ada nurani yang tidak bisa dimanipulasi. Dan di sanalah Sumpah Pemuda sejati akan selalu berdiam, di ruang batin yang jernih, di hati yang berani melawan arus, dan di jiwa yang percaya bahwa bangsa ini masih bisa diselamatkan oleh mereka yang mau berpikir, merasa, dan berbuat dengan kasih.


Apakah saya terlalu naif berharap begitu? Mungkin. Tapi bukankah semua kebangkitan selalu dimulai dari satu keyakinan kecil, bahwa kita masih punya harapan?

Dan mungkin, itu juga yang dulu dirasakan para pemuda 1928. Mereka tidak tahu apakah sumpah mereka akan mengubah sejarah. Tapi mereka mengucapkannya dengan iman. Kini, giliran kita untuk melanjutkannya dengan nalar, dengan nurani, dan dengan keberanian untuk tidak tunduk pada algoritma.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *