Kapal Besar Bernama Kementrian Agama dan Luka Kuota Haji

Mulyawan Safwandy Nugraha

Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ada satu rasa yang sulit saya sembunyikan. Rasa perihatin sekaligus kesedihan yang mendalam. Saya berada di dalam tubuh sebuah kapal besar bernama Kementerian Agama. Kapal ini bukan sekadar institusi negara. Ia adalah rumah tempat bertemunya doa, tempat rakyat menitipkan ibadahnya, tempat bangsa berharap ada kejujuran yang tidak lekang oleh perubahan zaman. Tapi di tengah perjalanan panjang kapal ini, saya menyaksikan riak yang menjelma badai. Kasus dugaan penyalahgunaan kuota haji.

Kita, Anda dan Saya sedang menyaksikan, dengan mata sendiri, betapa ada pihak yang mau menenggelamkan kapal ini. Bukan karena kapal ini rapuh. Bukan karena mesin kapal sudah usang. Tapi karena tangan-tangan manusia sendiri yang dengan sadar melubangi lambung kapal.

Ada pejabat karir internal, ada juga orang luar yang mendapat amanah jabatan di Kementerian, tapi alih-alih menjaga, mereka justru melukai. Mereka bukan sekadar salah urus, tapi mengkhianati ribuan bahkan jutaan jamaah yang menunggu giliran berangkat haji.

Kita tahu, antrean haji di negeri ini sangat panjang. Rata-rata calon jamaah harus menunggu 24 tahun. Bahkan ada yang 48 tahun. Bayangkan, seorang bapak yang mendaftar haji di usia 40, baru akan berangkat di usia hampir 90 tahun. Atau seorang ibu yang dengan tabah menabung sejak muda, ternyata ketika gilirannya datang, tubuhnya sudah renta, bahkan mungkin nyawanya sudah dipanggil.

Dalam rentang waktu menunggu itu, banyak yang wafat. Banyak yang tidak pernah melihat Ka’bah meski sudah melunasi biaya.

Di tengah penantian yang panjang itu, muncul kabar pahit. Ada orang yang bisa berangkat dengan cepat. Bisa mendahului antrean. Bukan karena usianya renta. Bukan karena ia punya penyakit keras. Bukan karena ada darurat syar’i. Tapi semata-mata karena ia punya uang. Karena ia bisa membayar lebih. Sementara yang lain tetap menunggu. Duduk di kursi panjang antrean. Menatap kosong layar yang menampilkan tahun keberangkatan yang semakin jauh.

Apakah ini bukan sebuah kezaliman? Apakah ini bukan perampasan hak?

Saya menyebutnya sebagai pengkhianatan ganda. Pertama, pengkhianatan terhadap jamaah yang sudah mendaftar secara resmi dan sah. Kedua, pengkhianatan terhadap amanah negara yang dititipkan ke Kementerian Agama. Dan pengkhianatan yang paling besar, adalah pengkhianatan kepada Allah, karena ibadah haji dijadikan komoditas, dijadikan ruang transaksi.

Saudara-saudaraku, ibadah haji itu bukan tiket konser yang bisa dibeli dengan harga mahal untuk duduk di barisan depan. Ibadah haji itu rukun Islam kelima. Ia adalah panggilan Tuhan. Ia adalah undangan suci. Kalau undangan itu diperdagangkan, maka siapa pun yang memperjualbelikannya sedang mengotori rumah Allah.

Maka wajar jika publik marah. Wajar jika rakyat kecewa. Wajar jika kepercayaan runtuh.Yang rugi bukan hanya jamaah reguler yang disalip. Tapi negara juga rugi. Kementerian Agama rugi. Kepercayaan publik hilang. Padahal, kepercayaan itu adalah modal terbesar sebuah lembaga. Sekali ia hancur, akan sulit sekali membangunnya kembali.

Kasus ini bukan sekadar kasus individu. Bukan sekadar kasus pejabat tertentu. Ini adalah kasus sosial. Kasus umat. Kasus yang menyangkut perasaan ratusan ribu orang yang menunggu. Jangan dipersempit menjadi masalah pribadi. Jangan dialihkan menjadi isu kelompok atau ormas. Jangan sampai ada tebang pilih.

Saya khawatir, bila kasus ini dibiarkan, bila para pelaku tidak segera ditetapkan sebagai tersangka, bila KPK atau aparat hukum ragu karena ada intervensi dari istana atau pihak mana pun, maka luka ini akan semakin dalam.Saudara-saudaraku, kalian mungkin masih diam. Kalian mungkin belum bersuara. Tapi jangan lupa, di dalam hati jamaah ada rasa perih yang dalam. Jamaah yang tersakiti ini belum bernyanyi. Kalau suatu hari mereka bernyanyi, suaranya bisa lebih lantang daripada orasi politik mana pun.

Karena apa? Karena haji bukan sekadar ritual. Ia adalah mimpi hidup. Ia adalah doa panjang. Ia adalah cita-cita yang ditulis di buku tabungan sejak belasan tahun. Maka ketika mimpi itu dirampas, jangan heran kalau luka yang lahir lebih dalam daripada sekadar kehilangan uang.

Saya ingin mengajak kita semua merenung. Kapal besar bernama Kementerian Agama ini adalah milik rakyat. Jangan biarkan ia tenggelam karena perilaku koruptif. Jangan biarkan ia dipermainkan oleh tangan-tangan kotor. Mari kita jaga bersama.

Saya bukan sedang membela institusi ini buta-buta. Saya pun kritis terhadap banyak hal di Kementerian. Untuk menjaga marwah dan martabat lembaga ini. Tapi saya tidak rela kalau ada yang ingin menenggelamkannya dengan cara-cara busuk. Saya tidak rela kalau jamaah haji yang sabar menunggu puluhan tahun justru dikhianati. Dikhianati oleh oknum kementerian ini.

Karena itu, saya katakan dengan tegas. Kasus kuota haji ini harus dibuka seterang-terangnya. Jangan ada yang disembunyikan. Jangan ada intervensi kekuasaan. Jangan ada permainan di belakang layar. KPK harus segera menetapkan tersangka, siapa pun dia. Entah pejabat internal. Entah orang luar yang diberi amanah. Entah kecil atau besar jabatannya.

Keadilan itu bukan pilihan. Ia adalah kewajiban.

Dan Kementerian Agama hanya bisa kembali dipercaya kalau berani membersihkan dirinya sendiri. Kalau berani menyingkirkan siapa pun yang melubangi kapal.Saudara-saudaraku, saya ingin menutup dengan sebuah renungan. Kita semua tahu, ibadah haji disebut sebagai hajjul mabrur. Haji yang mabrur itu tidak ada balasan kecuali surga. Tapi haji yang diperoleh dengan cara curang, dengan menyikut antrean, dengan membayar jalur khusus yang tak sah, apa kira-kira balasannya?

Kita semua harus bertanya di hati kita masing-masing. Apakah kita masih berani menghadap Allah dengan membawa ibadah yang cacat sejak awal?

Saya tidak tahu apakah artikel ini akan sampai pada telinga para pejabat kementerian agama yang terlibat. Tapi saya ingin mereka membaca kalimat ini: jangan menukar surga dengan secuil uang. Jangan menukar amanah dengan selembar tiket haji.

Karena yang kau khianati bukan hanya rakyat. Tapi Allah sendiri.

_Wallahu ‘alamu_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *