Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Penulis merupakan praktisi pendidikan, pegiat literasi, pendidik, peneliti, pengabdi juga sebagai Dosen UIN SGD Bandung. Bidang kajian yang diminati adalah kepemimpinan dan manajemen pendidikan Islam. Tulisan-tulisan ini adalah salah satu seri tentang keresahan penulis yang pernah menjadi guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, asesor akreditasi, pengurus yayasan, aktivis organisasi, dan pengamat pendidikan.
—-000—-
“Manusia berencana, Allah menentukan. Tapi rencana manusia yang baik, yang diniatkan karena Allah, adalah bagian dari sunnatullah.” Itulah petikan nasihat yang saya dengar dari seorang guru sepuh di sebuah madrasah kecil di pinggiran Kota Sukabumi. Sekilas terdengar sederhana. Tapi dalam konteks manajemen strategik pendidikan Islam, kalimat itu ibarat fondasi dari sebuah bangunan besar bernama institusi pendidikan unggul.
Apa itu Manajemen Strategik dalam Pendidikan Islam?
Manajemen strategik bukan sekadar perencanaan lima tahunan atau membuat visi-misi indah yang dipajang di depan sekolah. Ia adalah seni menyelaraskan antara potensi internal lembaga, tantangan eksternal, dan nilai-nilai Islam yang hidup dalam denyut nadi pendidik dan peserta didik. Manajemen strategik mengajak kita untuk berpikir jangka panjang, namun tetap membumi.
Dalam pandangan Nurcholish Madjid,
“Islam adalah agama yang mendorong dinamika dan perubahan. Iqra bukan hanya perintah membaca, tetapi memproduksi ilmu dan menyusun peradaban.
”(Madjid, Nurcholish. Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan. Mizan, 1992)

Artinya, sebuah lembaga pendidikan Islam seharusnya tidak hanya bertahan hidup (survival), tapi menjadi motor perubahan sosial dan kultural.
—-000—-
Mengapa Lembaga Kita Perlu Berstrategi?
Kita hidup dalam zaman disrupsi—teknologi berubah cepat, cara belajar siswa tidak lagi linier, dan tantangan sosial semakin kompleks. Banyak lembaga pendidikan Islam yang masih mengandalkan pola manajemen insidentil: berjalan berdasarkan rutinitas tahunan, reaktif terhadap masalah, dan miskin evaluasi menyeluruh.
Padahal dalam Islam, ada prinsip al-i’tibar (refleksi) dan tadbir (pengelolaan bijak). QS Al-Hasyr ayat 18 menegaskan: “Wahai orang-orang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
Hari esok bukan hanya akhirat, tetapi juga masa depan lembaga pendidikan kita. Maka perlu langkah-langkah strategik yang menyeluruh.
—-000—-
Langkah Strategik yang Islami dan Realistis
Berikut ini lima prinsip dasar manajemen strategik yang dapat diterapkan di lembaga pendidikan Islam:
1. Visi yang Visioner dan Qur’aniyah
Visi bukan sekadar slogan. Ia harus menyentuh nilai-nilai Qur’ani, seperti rahmatan lil ‘alamin, ta’lim wal tarbiyah, dan amanah ilmiah. Visi yang baik harus bisa menjawab tiga pertanyaan: “Kita ingin jadi apa?”, “Untuk siapa kita hadir?”, dan “Apa warisan peradaban yang ingin kita bangun?”
2. Analisis Kekuatan dan Kelemahan Lembaga secara Jujur
Banyak lembaga alergi terhadap evaluasi internal. Padahal dalam QS Al-Mujadilah ayat 11, Allah mendorong peningkatan kapasitas: “Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kamu.”
Maka penting untuk melakukan audit akademik, audit karakter, bahkan audit spiritualitas.
3. Merumuskan Tujuan Strategis yang Menginspirasi
Tujuan strategis bukan sekadar “meningkatkan lulusan” atau “menaikkan jumlah murid.” Lebih dari itu, harus mencerminkan perubahan nilai, seperti: menumbuhkan generasi pembelajar yang berpikir kritis dan berakhlak Qur’ani.
4. Membangun Tim Manajemen yang Kolaboratif dan Reflektif
Kepemimpinan dalam Islam bersifat kolektif. Rasulullah ﷺ selalu bermusyawarah, bahkan dalam hal-hal genting. Dalam konteks manajemen strategik, penting membangun tim kerja yang tak hanya mampu bekerja, tetapi mampu berpikir strategis.
5. Monitoring dan Revisi: Karena Strategi pun Butuh Evaluasi
Setiap strategi harus dievaluasi secara berkala. QS Al-Anfal ayat 60 menyatakan: “Persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi…” Persiapan di sini juga bermakna: meninjau ulang langkah, memperbaiki rencana, dan berani mengubah metode.
—000—
Kisah Inspiratif: Madrasah Binaan yang Bertransformasi
Saya pernah mendampingi sebuah madrasah swasta kecil di wilayah Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Delapan tahun lalu, hanya ada 42 siswa, dan kepala sekolah merangkap bendahara, bahkan merangkap guru PAI. Namun mereka punya mimpi: menjadi pusat pembelajaran Al-Qur’an dan sains untuk generasi digital.
Dengan memulai musyawarah tahunan strategik, mereka menyusun peta jalan lima tahun. Guru dilatih manajemen mutu, yayasan membuka kemitraan dengan komunitas IT lokal, siswa dilibatkan dalam “majlis strategi mingguan.” Kini, jumlah siswa melonjak jadi 180, beberapa siswa menang olimpiade robotika, dan madrasah ini menjadi rujukan untuk sekolah Islam berbasis STEAM.
Transformasi ini bukan karena dana besar, tetapi karena visi strategis yang bersumber dari iman dan dikelola dengan ilmu.
—000—
Penutup: Manajer Pendidikan adalah Mujaddid Zaman
Cak Nur pernah berkata:
“Reformasi pendidikan Islam hanya bisa terjadi jika kita menempatkan akal dan wahyu dalam posisi dialogis.”
(Madjid, Nurcholish. Islam Agama Kemanusiaan. Paramadina, 2008)
Maka manajemen strategik di lembaga Islam bukan sekadar soal laporan tahunan atau akreditasi. Ia adalah bentuk jihad intelektual, ijtihad kelembagaan, dan pengabdian ruhani kepada umat.
Kita memerlukan manajer pendidikan yang tidak hanya bisa membaca tren global, tetapi juga bisa menafsirkan realitas dengan hati yang terdidik wahyu. Karena sejatinya, setiap langkah strategik yang baik adalah bagian dari ibadah panjang menuju ridha-Nya.
Wallahu a’lamu

