Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Penulis merupakan praktisi pendidikan, pegiat literasi, pendidik, peneliti, pengabdi juga sebagai Dosen UIN SGD Bandung. Bidang kajian yang diminati adalah kepemimpinan dan manajemen pendidikan Islam. Tulisan-tulisan ini adalah salah satu seri tentang keresahan penulis yang pernah menjadi guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, asesor akreditasi, pengurus yayasan, aktivis organisasi, dan pengamat pendidikan.
—000—
Di tengah deru modernisasi dan kompetisi global yang makin tajam, lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan besar: bagaimana membangun etos kerja yang kuat, jujur, dan berorientasi pada amanah. Etos kerja bukan sekadar tentang kedisiplinan dan produktivitas, melainkan juga tentang sikap batin: kejujuran, tanggung jawab, dan semangat memberi yang berlandaskan iman.
Dalam bahasa Cak Nur, krisis utama dalam umat Islam bukan pada kurangnya lembaga, dana, atau tenaga, tetapi pada “kualitas mentalitas keberagamaan”. Mentalitas ini pula yang menentukan apakah seorang guru datang mengajar sebagai rutinitas atau sebagai ibadah. Apakah kepala madrasah mengelola lembaga demi formalitas jabatan, atau karena ada kesadaran mendalam untuk mencerdaskan umat.
“Islam bukan hanya agama doktrin, tapi juga energi peradaban.”
(Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, 1992)
—000—
Menimbang Ulang Makna Amanah dalam Pendidikan
Amanah bukan konsep normatif kosong. Dalam konteks manajemen pendidikan, amanah bermakna melaksanakan tugas dengan itqan (profesionalisme), ikhlas (niat lurus), dan adil (proporsional dan objektif). Seorang guru yang datang terlambat, mengajar sambil setengah hati, atau bahkan “jual buku paket” demi keuntungan pribadi, sejatinya sedang mengkhianati amanah. Lembaga pendidikan bukan tempat dagang ego atau kepentingan pribadi.
Dalam QS. Al-Ahzab [33]:72, Allah menyebut amanah sebagai beban berat yang ditolak oleh langit dan bumi, namun manusia menerimanya. Amanah pendidikan adalah salah satu yang terberat: mengasuh akal, hati, dan adab generasi penerus.
Sayangnya, dalam banyak kasus di lembaga pendidikan Islam, amanah ini disamakan dengan sekadar menggugurkan kewajiban. Di sinilah pentingnya menata ulang budaya organisasi: dari budaya “asal kerja” menuju budaya “kerja sebagai ibadah”.
—000—
Cerita Hikmah: Pak Mizan dan Sepiring Nasi Bungkus
Saya teringat sosok Pak Mizan, penjaga sekolah di sebuah madrasah swasta di pinggiran Garut. Ia hanya lulusan SMP, tapi selama 20 tahun ia menjadi “guru karakter” bagi para siswa. Datang paling pagi, membersihkan musala, menyambut anak-anak dengan salam. Pernah saya tanya, “Kenapa Bapak betah di sini dengan gaji tak seberapa?” Ia menjawab sambil tersenyum, “Karena saya tak kerja untuk gaji, tapi untuk Allah. Anak-anak ini amanah.”
Kisah Pak Mizan menunjukkan bahwa etos kerja tak lahir dari pelatihan manajemen, tapi dari hati yang yakin bahwa setiap perbuatan dipantau Tuhan. Dalam istilah Cak Nur, ini adalah “konsistensi tauhid dalam tindakan sosial”.
—000—
Budaya Organisasi: Dari Teks ke Konteks
Etos kerja lembaga Islam sering macet karena budaya organisasinya belum tumbuh. Visi misi ditulis indah, tapi tak meresap ke perilaku harian. Seperti madrasah yang dalam profil menulis “Unggul dan Islami”, tapi guru-gurunya menggunjing di ruang guru dan manajemennya korup.
Menurut Edgar Schein, budaya organisasi mencerminkan “pola asumsi mendasar yang ditemukan, diciptakan, atau dikembangkan oleh kelompok tertentu saat mereka belajar mengatasi masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal.”
Maka pembaruan etos kerja harus dimulai dari puncak: kepala sekolah atau yayasan yang menjadi teladan dalam kedisiplinan, pelayanan, dan kejujuran.
Cak Nur dalam Kebudayaan dan Kemanusiaan (2005) menekankan pentingnya transformasi budaya sebagai jalan pembaruan Islam. Pendidikan Islam harus menjadi motor peradaban, bukan sekadar penjaga masa lalu.
“Budaya Islam tidak boleh dimaknai sebagai kebiasaan, tetapi harus sebagai kreativitas yang berakar dari nilai-nilai universal Islam.”

(Nurcholish Madjid, Kebudayaan dan Kemanusiaan, 2005)
—000—
Dari Budaya Malas ke Budaya Muwajahah
Banyak lembaga Islam terjebak dalam budaya malas: menunda pekerjaan, menghindar dari inovasi, dan takut evaluasi. Sebaliknya, budaya kerja yang Islami adalah budaya muwajahah—berani menghadapi kenyataan. Lembaga harus rutin mengevaluasi diri: apakah guru-guru terus bertumbuh? Apakah sistem keuangan transparan? Apakah siswa merasa bahagia?
Dalam Manajemen Pendidikan Islam karya Mulyasa (2021), disebutkan bahwa manajemen berbasis nilai-nilai Islam akan efektif bila diterapkan melalui sistem nilai, perilaku, dan struktur organisasi yang saling mendukung. Jadi bukan hanya soal target akademik, tapi ekosistem moral.
—000—
Perluasan Konsep Profesionalisme Islami
Profesionalisme guru dalam Islam bukan hanya soal sertifikasi dan portofolio atau lulus PPG (Pendidikan Profesi Guru). Tapi bagaimana menjadikan ilmunya manfaat dan hidupnya berkah. Dalam QS. Al-Mujadilah [58]:11, Allah mengangkat derajat orang-orang yang Beriman dan berilmu di antara Kamu. Tapi ilmu tak bernilai bila tak dibarengi integritas.
Dalam buku Islam, Modernitas, dan Keindonesiaan (2008), Cak Nur mengajak kita berpikir ulang soal makna modernisasi. Bagi beliau, modern bukan berarti sekuler, tapi mampu menjawab tuntutan zaman dengan nilai-nilai Islam yang hidup. Maka seorang guru harus “modern” bukan karena gadget-nya, tapi karena pikirannya terbuka dan akhlaknya bersinar.
—000—
Menutup dengan Harapan
Etos kerja bukan wacana abstrak. Ia adalah napas sehari-hari lembaga pendidikan. Ia hidup dalam keteladanan, bukan seremonial. Dalam pelayanan yang tulus, bukan spanduk visi-misi. Etos Islami bukan hanya doa sebelum belajar, tapi disiplin, integritas, dan cinta kerja sebagai wujud ibadah.
Tugas kita hari ini adalah menanamkan kembali makna amanah, membangun budaya kerja Islami, dan menjadikan sekolah sebagai taman kebaikan. Bukan hanya tempat cari ijazah, tapi ruang tumbuhnya jiwa-jiwa amanah.
Sebagaimana dikatakan Cak Nur, “Yang harus diperjuangkan bukan Islam sebagai simbol, tapi nilai-nilai Islam sebagai kekuatan pembebas dan pencerah.” Dan pendidikan adalah alat perjuangan itu.
Wallahu a’lamu

