Oleh: Mulyawan Safwandy Nugraha
Penulis merupakan praktisi pendidikan, pegiat literasi, pendidik, peneliti, pengabdi juga sebagai Dosen UIN SGD Bandung. Bidang kajian yang diminati adalah kepemimpinan dan manajemen pendidikan Islam. Tulisan-tulisan ini adalah salah satu seri tentang keresahan penulis yang pernah menjadi guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, asesor akreditasi, pengurus yayasan, aktivis organisasi, dan pengamat pendidikan.
—00—
Suatu sore, dalam sebuah pelatihan manajemen lembaga pendidikan, seorang peserta yang juga kepala madrasah swasta bertanya, “Pak, kami kan bukan lembaga pemerintah, untuk apa transparansi detail keuangan diumumkan ke semua guru dan orang tua? ” Pertanyaan ini mewakili kegelisahan yang lebih luas: apakah akuntabilitas hanya urusan administratif?
Saya jawab dengan satu kisah: Ada seorang kepala madrasah tua di daerah Sukabumi. Setiap akhir bulan, ia mengundang guru, komite, bahkan tukang kebun dan bendahara untuk duduk di musala sekolah. Ia buka laporan keuangan dengan rinci: uang masuk, pengeluaran, bahkan sisa infak kantin. “Kita bukan sedang hitung uang,” katanya, “tapi menjaga amanah.
”Lembaga itu sederhana, tapi dipercaya. Tak pernah kekurangan donatur. Murid bertambah setiap tahun. Karena orang tua dan masyarakat percaya bahwa mereka menjaga akuntabilitas bukan karena diawasi, tapi karena merasa diawasi Allah.
—00—
Akuntabilitas: Bukan Sekadar Laporan, Tapi Amanah
Dalam dunia manajemen modern, akuntabilitas sering dipersempit menjadi urusan pelaporan dan dokumentasi. Ada audit, ada laporan BOS, ada spreadsheet dan grafik. Semua itu penting, tentu. Tapi dalam konteks Islam, akuntabilitas bukan hanya urusan duniawi. Ia adalah perjalanan tanggung jawab yang bermuara pada Allah.
“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nurcholish Madjid dalam berbagai tulisannya menegaskan bahwa Islam adalah agama etika publik. Ia tidak membiarkan kekuasaan berjalan tanpa batas. Dalam bukunya, ia menulis:
“Masyarakat Islam yang sehat selalu dibentuk oleh nilai pertanggungjawaban, karena itulah kunci moral dari kepercayaan publik.”
(Madjid, Nurcholish. 1997. Islam, Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina)
—00—
Lembaga Pendidikan Islam dan Krisis Kepercayaan
Hari ini, banyak lembaga pendidikan Islam menghadapi krisis kepercayaan. Tidak sedikit yang dicurigai bermain angka: dana hibah tidak jelas penggunaannya, uang pembangunan tidak transparan, gaji guru ditunda tanpa kejelasan, pengambilan keputusan tanpa partisipasi.
Krisis seperti ini bukan semata karena kekurangan dana, tapi karena miskinnya etika akuntabilitas. Ketika pemimpin sekolah tak merasa wajib menjelaskan, dan guru tak merasa berhak tahu, maka lembaga kehilangan ruhnya sebagai wadah amanah umat.
Padahal, lembaga pendidikan Islam lahir dari kepercayaan masyarakat. Mereka mengirimkan anak-anaknya bukan sekadar untuk belajar, tapi untuk dititipkan secara ruhani dan sosial.
—00—
Akuntabilitas dari Perspektif Cak Nur: Islam Sebagai Etika Publik
Dalam banyak kesempatan, Cak Nur menekankan bahwa Islam tidak hanya urusan ibadah pribadi, tetapi sangat kuat dalam menegakkan moralitas sosial. Ia menulis:
|
“Agama dalam pengertian otentik harus menjadi kekuatan etis dalam mengatur hubungan sosial, termasuk dalam aspek pemerintahan dan administrasi publik.”
(Madjid, Nurcholish. 2000. Bilik-Bilik Pesantren. Jakarta: Paramadina)

Jika lembaga pendidikan Islam hanya membentuk siswa yang shalat tepat waktu tapi melihat manipulasi dana di sekolah tanpa bertanya, maka pendidikan kita gagal total. Kita sedang membentuk umat yang taat secara ritual, tapi tumpul secara sosial.
—00—
Praktik Akuntabilitas yang Menghidupkan
Banyak sekolah Islam yang sudah mulai menghidupkan akuntabilitas berbasis ruhaniyah ini. Di antaranya:
1. Rapat keuangan terbuka di awal dan akhir semester. Agar setiap kegiatan bukan sekadar selesai, tapi juga direnungi bersama: apa manfaatnya? Apa pelajaran spiritualnya?
2. Majelis musyawarah bulanan Segala kebijakan disepakati bersama. Musyawarah bukan formalitas, tapi forum mendengarkan suara hati lembaga.
3. Laporan kegiatan dibuat oleh siswa dan guru bersama Agar setiap kegiatan bukan sekadar selesai, tapi juga direnungi bersama: apa manfaatnya? Apa pelajaran spiritualnya?
4. Jurnal pribadi pimpinanKepala sekolah menulis refleksi setiap minggu, bukan untuk publikasi, tapi untuk pertanggungjawaban batin: apakah aku sudah adil? Sudah transparan?

—00—
Inspirasi: Menjaga Amanah Seperti Ulama Dahulu
Umar bin Abdul Aziz, khalifah yang terkenal zuhud, pernah mematikan lampu istana ketika pembicaraan beralih dari urusan negara ke urusan pribadi. “Minyak lampu ini dari baitul mal,” katanya. Itu adalah bentuk akuntabilitas spiritual yang tinggi—menjaga batas yang tak tampak.
Bayangkan jika kepala sekolah mematikan AC ruangannya ketika tak digunakan. Jika bendahara sekolah menolak menerima dana tanpa dokumen sahih. Jika guru menolak menerima honor tambahan yang tak jelas sumbernya. Pendidikan Islam akan menjadi cermin cahaya etika, bukan hanya ruang hafalan.
—00—
Tiga Pilar Akuntabilitas dalam Lembaga Pendidikan Islam
1. Transparansi administratif
Segala transaksi keuangan dan kebijakan harus bisa dipertanggungjawabkan secara formal.
2. Partisipasi kolektif
Setiap unsur dalam lembaga (guru, staf, komite) diberi ruang untuk mengetahui dan mengkritisi proses pengambilan keputusan.
3. Refleksi ruhaniyah
Ada kesadaran mendalam bahwa tanggung jawab lembaga bukan hanya pada manusia, tapi juga pada Tuhan.
—00—
Penutup: Jangan Gadaikan Amanah Umat
Cak Nur pernah menulis:
“Kita tidak boleh menjadikan agama sebagai perisai dari penyimpangan publik.”
(Madjid, Nurcholish. 1992. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan)
Pendidikan Islam adalah institusi kepercayaan. Ia lahir dari semangat wakaf, infaq, zakat, dan pengabdian. Jika kita mencederainya dengan perilaku tidak jujur dan budaya menutup-nutupi, maka kita sedang menghancurkan salah satu fondasi umat.
Mari kita jadikan akuntabilitas sebagai ruh lembaga, bukan sekadar kewajiban teknis. Sebab ketika manusia tak tahu, Allah tahu. Ketika laporan bisa dimanipulasi, hati nurani tidak bisa dibungkam.
Semoga lembaga pendidikan Islam terus menjadi ruang amanah yang menyinari umat. Bukan hanya dengan kata-kata indah, tapi dengan kejujuran dan tanggung jawab yang utuh.

