Oleh : Mulyawan Safwandy Nugraha
Penulis merupakan praktisi pendidikan, pegiat literasi, pendidik, peneliti, pengabdi juga sebagai Dosen UIN SGD Bandung. Bidang kajian yang diminati adalah kepemimpinan dan manajemen pendidikan Islam. Tulisan-tulisan ini adalah salah satu seri tentang keresahan penulis yang pernah menjadi guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, asesor akreditasi, pengurus yayasan, aktivis organisasi, dan pengamat pendidikan.
==============000===============
Beberapa tahun lalu, saya bertemu seorang kepala sekolah madrasah di pelosok Jawa Barat. Gajinya kecil, ruang kantornya sempit, dan dana BOS selalu telat. Tapi wajahnya teduh. Ia datang lebih pagi dari guru, pulang paling akhir. Ia menegur dengan kelembutan, tapi tak ragu tegas jika nilai-nilai dilanggar. Warga sekolah memanggilnya dengan hormat: “Bapak.”
Ia bukan sekadar manajer, bukan hanya administrator. Ia adalah pemimpin ruhaniya, sosok yang memimpin dengan keikhlasan, bukan kepentingan. Kepemimpinan semacam inilah yang kini langka, padahal sangat dibutuhkan.
==============000===============
Sekolah Butuh Pemimpin, Bukan Penguasa
Banyak sekolah Islam memiliki struktur organisasi lengkap: ada kepala sekolah, wakil, koordinator, hingga staf. Tapi tidak semua memiliki jiwa kepemimpinan yang memerdekakan. Ada yang memimpin seperti mandor proyek. Ada pula yang lebih sibuk menjaga kursi daripada menjaga nilai.
Kepemimpinan dalam Islam bukan tentang kontrol, tapi tentang amanah. Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah duduk di atas tahta, tapi berjalan di tengah umat. Cak Nur mengingatkan:
“Islam melihat kekuasaan bukan sebagai kekuatan dominatif, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.”
(Madjid, Nurcholish. 2008. Islam Agama Kemanusiaan. Jakarta: Paramadina)
==============000===============
Ciri Kepemimpinan Spiritual: Bukan Soal Gaya, Tapi Kesadaran
Kepemimpinan spiritual bukan sekadar menambahkan kata “islami” di depan gaya kepemimpinan. Ia bukan soal jargon, tapi soal kesadaran terdalam bahwa memimpin adalah ibadah.
Beberapa ciri utamanya:
1. Berorientasi pada kebermaknaan, bukan keuntunganPemimpin spiritual menilai kesuksesan bukan dari jumlah siswa, tapi dari kualitas proses dan integritas.
2. Menghidupkan nilai dalam tindakan sehari-hariIa tidak hanya bicara tentang amanah dan kejujuran, tapi menunjukkannya dalam cara ia menegur staf atau mengelola konflik.
3. Menjadi teladan ruhaniyahIa shalat tepat waktu, berkata lembut, menghindari gibah, dan menjaga lisannya—bukan karena ditonton, tapi karena takut kepada Allah.
4. Memandang semua orang sebagai mitra dakwahGuru honorer, petugas kebersihan, sampai orang tua murid, semua dihargai. Tidak ada yang lebih tinggi, semua punya peran mulia.

==============000===============
Islam dan Tradisi Kepemimpinan Etis
Islam sejak awal menolak kepemimpinan yang otoriter. Nabi ﷺ bersabda:
“Pemimpin kalian yang terbaik adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, yang kalian doakan dan mereka mendoakan kalian.” (HR. Muslim)
Ini adalah konsep kepemimpinan yang dialogis, bukan instruktif. Yang membangun cinta, bukan ketakutan. Yang tumbuh dari kepercayaan, bukan perintah.
Cak Nur menyebut ini sebagai pergeseran dari “politik kekuasaan” ke “politik moral.” Dalam konteks sekolah, ini berarti kepala sekolah yang tidak hanya mahir mengatur, tapi juga menyemai nilai-nilai ilahiyah dalam budaya kerja.
“Kekuasaan harus tunduk kepada moral. Pemimpin harus menjadi sumber inspirasi moral, bukan sekadar eksekutor aturan.”

(Madjid, Nurcholish. 1997. Islam, Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina)
==============000===============
Tantangan Kepemimpinan di Lembaga Pendidikan Islam Hari Ini
Namun kenyataannya, banyak lembaga pendidikan Islam masih terjebak pada pola kepemimpinan duniawi:
- Kepala sekolah bersaing dengan yayasan
- Guru tidak merasa dilibatkan dalam kebijakan
- Keputusan diwarnai emosi, bukan musyawarah
- Laporan lebih ditekankan daripada proses pembelajaran
Padahal, lembaga pendidikan Islam harus menjadi ruang pengabdian, bukan ladang kekuasaan. Ia harus menjadi tempat di mana pemimpin membimbing, bukan mengendalikan.
==============000===============
Menghidupkan Jiwa Kepemimpinan Spiritual
Berikut adalah tiga langkah awal yang bisa dilakukan lembaga pendidikan:
1. Retret spiritual tahunan untuk para pimpinanBukan sekadar workshop manajemen, tapi ruang tafakur. Bahas kembali makna “memimpin sebagai ibadah.” Bangun kesadaran ruhaniyah kolektif.
2. Forum refleksi antar guru dan pemimpinDi mana pemimpin mendengar, bukan hanya bicara. Forum ini bisa membuka pintu untuk kejujuran dan evaluasi diri.
3. Sistem evaluasi berbasis nilai, bukan angka semata. Buat indikator kerja bukan hanya tentang absensi dan target, tapi juga tentang adab, akhlak kerja, dan integritas pribadi.

==============000===============
Penutup: Memimpin Menuju Ridha, Bukan Citra
Dalam satu kesempatan, Cak Nur menyampaikan:
“Orang besar bukan yang duduk di atas singgasana, tapi yang menanam makna di hati orang banyak.”
(Madjid, Nurcholish. 2000. Bilik-Bilik Pesantren. Jakarta: Paramadina)

Di tengah krisis etika kepemimpinan yang melanda banyak lembaga, pendidikan Islam harus menjadi pengecualian. Ia harus menghadirkan pemimpin yang bukan hanya cakap, tapi juga tunduk pada Yang Maha Memimpin.
Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang pemimpin pendidikan Islam bukan diukur dari laporan, tapi dari jejak keberkahan yang ia tinggalkan.
Mari kita kembalikan ruh memimpin ke pangkalnya: bukan ambisi, tapi amanah. Bukan jabatan, tapi pengabdian. Sebab tugas kita bukan hanya mendidik siswa, tapi juga membangun generasi yang kelak akan memimpin dunia dengan cahaya iman dan akal.
==============000===============
