Oleh:
Penulis merupakan praktisi pendidikan, pegiat literasi, pendidik, peneliti, pengabdi juga sebagai Dosen UIN SGD Bandung. Bidang kajian yang diminati adalah kepemimpinan dan manajemen pendidikan Islam. Tulisan-tulisan ini adalah salah satu seri tentang keresahan penulis yang pernah menjadi guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, asesor akreditasi, pengurus yayasan, aktivis organisasi, dan pengamat pendidikan.
—000—
Suatu kali, saya mengunjungi sebuah sekolah Islam yang memiliki bangunan megah, fasilitas lengkap, dan jumlah siswa yang banyak. Tapi, saat duduk sebentar di ruang guru, saya merasa ada yang tidak pas: guru saling diam, komunikasi formal, tidak tampak kehangatan. Kepala sekolah berjalan seperti bos, bukan pemimpin yang menyatu.
Di sisi lain, saya pernah masuk ke sekolah kecil di desa. Bangunannya sederhana, perangkatnya terbatas. Tapi saya disambut dengan senyum. Guru saling menyapa dengan tulus. Kepala sekolah duduk berdampingan dengan staf dan makan siang bersama. Ada yang tak terlihat tapi terasa kuat: budaya organisasi yang sehat.
—000—
Budaya: Nafas yang Tidak Tertulis, Tapi Menentukan
Setiap lembaga pendidikan memiliki budaya: cara tidak tertulis yang membentuk bagaimana orang bertindak, merasa, dan berpikir dalam lingkungan itu. Budaya organisasi bukan hanya soal seremoni atau jargon motivasi di dinding. Ia hidup di cara guru menegur siswa, cara pimpinan mengambil keputusan, dan cara kita menyikapi perbedaan.
Cak Nur menyebut bahwa agama harus menumbuhkan keadaban, bukan sekadar ketaatan simbolik. Dalam tulisannya ia menekankan:
“Agama itu bukan sekadar doktrin formal, melainkan daya pembebas dan pencerah peradaban.”
(Madjid, Nurcholish. 1997. Islam, Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina)
Maka lembaga pendidikan Islam, jika ingin sejalan dengan spirit Islam itu sendiri, harus menghadirkan budaya adab, kejujuran, saling menghormati, keterbukaan, dan keadilan.
—000—
Budaya Organisasi yang Rusak: Ketika Sekolah Tak Lagi Jadi Rumah
Banyak lembaga pendidikan Islam mengalami krisis diam-diam karena budaya organisasi yang buruk. Di antaranya:
- Komunikasi vertikal dan takut salah
- Guru merasa tidak dilibatkan dalam keputusan
- Saling curiga dan minim apresiasi
- Kritik dianggap ancaman
- Loyalitas hanya dibangun di sekitar pimpinan, bukan visi lembaga
Lembaga pendidikan seperti ini memang bisa bertahan secara administratif, tapi kehilangan rohnya sebagai rumah bersama. Ia jadi tempat kerja, bukan tempat tumbuh. Jadi ruang instruksi, bukan ruang inspirasi.
Cak Nur mengingatkan agar agama tidak dipakai untuk menutupi dominasi, karena sesungguhnya tujuan agama adalah membangun hubungan yang adil dan setara.
“Agama yang otentik harus membebaskan, bukan menghegemoni.”

(Madjid, Nurcholish. 2008. Islam Agama Kemanusiaan. Jakarta: Paramadina)
—000—
Budaya Islami: Dari Slogan Menjadi Perilaku
Di banyak sekolah Islam, kita sering temukan spanduk besar bertuliskan nilai: ikhlas, jujur, disiplin, tawadhu’. Tapi sayangnya, budaya kerja tidak mencerminkan itu. Guru saling bersaing. Pimpinan jarang turun ke kelas. Supervisi seadanya. Evaluasi tidak adil. Nilai hanya jadi slogan, bukan praktik.
Padahal, jika budaya ini benar-benar dijalankan, maka sekolah akan menjadi ruang damai. Murid merasa aman. Guru merasa dihargai. Pemimpin merasa ditantang untuk terus belajar, bukan mengatur dari atas.
—000—
Membangun Budaya Organisasi Islami: Lima Langkah Nyata
Mungkin sebagai bahan renungan, ada lima hal yang bisa dilakukan oleh setiap kita yng ada di lembaga pendidikan Islam dengan tidak lupa menerapkan nilai dan prinsip Islam itu sendiri, yaitu;
1. Tegakkan prinsip musyawarah dan syuraJangan ambil keputusan strategis tanpa melibatkan guru. Prinsip ini ditegaskan dalam QS. Ali Imran: 159 dan menjadi landasan budaya partisipatif.
2. Pemimpin sebagai teladan etikaCak Nur menekankan pentingnya moral leadership. Pemimpin tidak cukup jujur, ia harus terlihat jujur. Tidak cukup terbuka, ia harus menunjukkan keterbukaan.
3. Hilangkan budaya segan dan takut bicaraCiptakan forum diskusi bebas, beri ruang kritik, dan jangan tanggapi masukan dengan emosi. Budaya Islami bukan budaya membungkam.
4. Bangun sistem apresiasi dan kepercayaanBudaya Islami tumbuh ketika orang merasa diakui. Apresiasi bukan hanya soal hadiah, tapi pengakuan terbuka terhadap kontribusi setiap individu.
5. Evaluasi budaya secara berkalaJangan hanya evaluasi nilai akademik. Evaluasi juga nilai-nilai organisasi: apakah keadilan terasa? Apakah keterbukaan nyata?
—000—
Sekolah Sebagai Rumah Bersama: Spirit Islam Sosial
Konsep “rumah bersama” tidak muncul dari langit. Ia adalah buah dari kesadaran sosial yang matang. Bahwa sekolah bukan tempat satu orang mengatur semua, tapi tempat semua unsur saling menopang.
Cak Nur menyebut:
“Islam datang bukan untuk membangun elite, tapi untuk memperkuat masyarakat.”
(Madjid, Nurcholish. 1992. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan)
Maka pimpinan sekolah, guru, tata usaha, komite, bahkan satpam dan petugas kebersihan, semua harus merasa terhormat dan diikutsertakan. Itulah sekolah Islami.
—000—
Penutup: Roh Lembaga Ada di Budaya Kerja
Cak Nur sering mengingatkan agar agama tidak menjadi simbol kosong. Ia harus hidup dalam tindakan dan sistem. Maka sekolah Islam yang benar adalah yang menghadirkan nilai-nilai Islam dalam budaya organisasi sehari-hari. Bukan hanya di papan misi, tapi dalam cara orang bicara dan bekerja.
Jika budaya kerja Islami hadir, maka bangunan boleh sederhana, dana bisa terbatas, tapi suasana akan hidup dan menumbuhkan. Sekolah seperti itu bukan hanya mencetak murid berprestasi, tapi membentuk manusia berakhlak dan merdeka.
Tidak banyak yang memiliki pemikiran seperti di atas. Sama dengan masih banyaknya lembaga pendidikan Islam yang masih memerlukan penguatan terhadap nilai-nilai Islam sebagai pondasi budaya kerja.
Mari kita bangun lembaga pendidikan Islam sebagai rumah bersama, yang damai, terbuka, adil, dan berspirit nubuwwah. Sebab pendidikan bukan proyek, tapi perjuangan. Dan perjuangan harus dibangun di atas budaya yang sehat.

