Menghidupkan Budaya Kritis di Sekolah Islam: Antara Tradisi dan Pembaruan

Oleh : Mulyawan Safwandy Nugraha

Praktisi pendidikan, pegiat literasi, Peneliti dan Pengabdi pada lembaga pendidikan Islam Swasta, Dosen UIN SGD Bandung, dan ketua Umum Agerlip PP PGM Indonesia. Berpengalaman mengelola Jurnal Ilmiah Bereputasin Nasional dan Internasional

Di banyak sekolah Islam, pelajaran tentang adab diajarkan sejak dini. Anak-anak diminta sopan, tertib, hormat, dan taat. Tapi jarang diajarkan untuk bertanya, berbeda pendapat, atau menguji kebenaran. Lama-kelamaan, lembaga pendidikan Islam hanya menghasilkan murid yang patuh, bukan yang paham; yang setuju, bukan yang bertumbuh.

Padahal, dalam sejarah Islam sendiri, berpikir kritis adalah tradisi luhur. Para ulama besar seperti Al-Ghazali, Al-Farabi, hingga Ibn Khaldun tidak pernah berhenti mempertanyakan zaman, menyaring tradisi, dan menyampaikan pikiran secara independen. Tradisi ijtihad, yang menjadi ciri khas Islam klasik, adalah bukti bahwa umat ini pernah sangat menghargai pemikiran yang mendalam dan berani.

Justru dari sanalah ilmu berkembang. Dan dari sanalah peradaban tumbuh.

—000—

Cak Nur: Kritis Adalah Tanda Iman yang Sehat

Nurcholish Madjid, atau Cak Nur, menyebut berpikir kritis sebagai ciri orang beriman yang dewasa. Dalam pandangannya, iman yang otentik hanya mungkin jika berpijak pada kebebasan berpikir. Tanpa kebebasan itu, agama menjadi dogma yang membatasi, bukan cahaya yang membebaskan.

“Beragama secara otentik hanya mungkin jika ada kebebasan berpikir. Di situlah iman bertemu akal, dan keduanya saling menyempurnakan.” (Madjid, Nurcholish. 1992. Islam Kemodernan dan Keindonesiaan. Bandung: Mizan)

Sayangnya, banyak lembaga pendidikan Islam hari ini masih menempatkan pertanyaan sebagai ancaman. Murid yang banyak bertanya dianggap kurang ajar. Guru yang mengajak diskusi dianggap menyimpang. Akhirnya, pendidikan kita menjadi dangkal: hafalan tanpa pemahaman, pengulangan tanpa pencarian.

Pendidikan seperti itu menghasilkan umat yang pasif: cepat percaya, cepat terprovokasi, dan lambat memahami konteks.

—000—

Tradisi Bertanya dalam Islam

Al-Qur’an menyebut lebih dari 100 kali ungkapan seperti “yas’aluunaka” — “mereka bertanya kepadamu” — mulai dari urusan perang, puasa, bulan sabit, hingga ruh. Semua itu menunjukkan bahwa bertanya adalah bagian dari jalan kenabian.

Rasulullah SAW tidak mematikan pertanyaan. Ia mendengar, menjawab, atau menunda sampai mendapat wahyu. Bahkan, dalam banyak riwayat, Nabi membiarkan dialog terbuka.

Dalam hadis riwayat Bukhari, diceritakan ketika Rasulullah memilih tempat perkemahan di Perang Badar, seorang sahabat bertanya, “Apakah ini wahyu atau pendapat pribadi?” Ketika dijawab bahwa itu pendapat pribadi, sahabat tersebut mengusulkan lokasi lain yang lebih strategis. Nabi menerimanya.

Inilah wajah Islam yang sehat: terbuka, dinamis, dan bersahabat dengan pertanyaan.

—000—

Sekolah Islam dan Tantangan Zaman

Hari ini kita hidup di zaman digital, di mana informasi melimpah dan arus ide sulit dibendung. Anak-anak tumbuh dalam dunia yang tidak bisa dikendalikan oleh guru atau orang tua. Jika sekolah Islam tidak menjadi tempat berpikir yang sehat, mereka akan membentuk cara pikirnya di tempat lain—sering kali tanpa bimbingan etis dan nalar.

Kita tidak bisa lagi menyuruh murid diam dan menelan jawaban. Kita harus mengajak mereka berpikir. Bahkan, berpikir dengan kemungkinan berbeda dengan kita. Itulah proses pendidikan sejati.

“Tidak mungkin umat Islam tumbuh menjadi masyarakat modern yang sehat jika kebebasan berpikir tidak dijamin. Tradisi nalar harus dibangun.” (Madjid, Nurcholish. 1997. Islam, Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina)

—000—

Tradisi dan Pembaruan: Bukan Lawan, Tapi Mitra

Budaya berpikir kritis bukan berarti meninggalkan tradisi. Justru pembaruan yang sehat hanya lahir dari hubungan kritis dan kreatif dengan tradisi.

Kita sering kali memperlakukan khazanah keilmuan Islam seperti museum: hanya untuk dilihat, bukan digunakan. Kitab-kitab klasik dipelajari sebagai beban, bukan sebagai jendela pemahaman. Padahal, tradisi Islam pernah hidup justru karena keterbukaannya pada pemikiran baru.

“Kita tidak boleh mewarisi abu dari api. Kita harus mewarisi apinya.” (Madjid, Nurcholish. 2000. Bilik-Bilik Pesantren. Jakarta: Paramadina)

Cak Nur mengajak kita untuk kembali ke semangat para ulama, bukan hanya ke teksnya. Warisan utama Islam adalah cara berpikir, bukan kumpulan doktrin.

—000—

Praktik Sekolah Islam Progresif

Beberapa lembaga pendidikan Islam, baik formal maupun non formal, tetapi yang punya visi progresif, hari ini sudah mulai memberi ruang untuk itu. Di antaranya:

  1. Kelas diskusi tafsir tematik di mana siswa membaca ayat dan menafsirkan sesuai realitas modern, dibimbing guru.
  2. Proyek filsafat untuk remaja, di mana mereka diberi kebebasan menjawab pertanyaan eksistensial: “Apa makna hidup?”, “Mengapa saya beragama?”
  3. Forum kritik bulanan antara guru dan murid, sebagai upaya membangun komunikasi yang sehat dan saling menghargai pendapat.

Semua itu masih jauh dari sempurna. Tapi mereka adalah contoh bahwa sekolah bisa menjadi ruang dialektika iman dan akal, bukan ruang dogma dan tekanan sosial.

—000—

Tiga Cara Membangun Budaya Kritis di lembaga pendidikan Islam, yaitu:

  1. Guru sebagai fasilitator, bukan pusat pengetahuan. Guru tidak harus selalu punya jawaban. Kadang, pertanyaan yang baik justru datang dari guru yang mau mendengarkan.
  2. Tugas-tugas yang berbasis argumen, bukan hafalan. Tugas makalah dan presentasi harus mengajak siswa menyampaikan pendapat, bukan sekadar mengulang buku.
  3. Lingkungan yang aman untuk gagal. Kritis hanya tumbuh dalam lingkungan yang tidak mempermalukan kesalahan. Sekolah harus menjadi tempat yang aman untuk salah, belajar, dan tumbuh.

—000—

Penutup : Iman Tanpa Akal, Akal Tanpa Arah

Dalam salah satu ceramahnya, Cak Nur berkata:

“Kemunduran umat Islam bukan karena kekurangan semangat religius, tapi karena kehilangan keberanian berpikir.” (Madjid, Nurcholish. 2008. Islam Agama Kemanusiaan. Jakarta: Paramadina)

Sekolah Islam yang tidak mengajarkan murid berpikir, akan gagal menyiapkan mereka menghadapi dunia yang berubah. Dan lebih dari itu, sekolah yang tidak memberi ruang berpikir akan menyempitkan makna Islam itu sendiri.

Maka mari kita jadikan sekolah Islam sebagai rumah tafakur, bukan benteng dogma. Tempat di mana iman tidak membungkam akal, dan akal tidak mengabaikan iman. Tempat di mana pertanyaan bukan dosa, tapi awal dari makna.

Pada akhirnya, mendidik adalah menemani manusia mencari cahaya. Maka mari kita warisi apinya, bukan abunya.

#SESI 5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *